logo

ACT Teguhkan Komitmennya Membangun Kembali Kehidupan Rohingya

ACT Teguhkan Komitmennya Membangun Kembali Kehidupan Rohingya

Vice President ACT Iqbal Setiyarso dari
Amanah dari masyarakat Indonesia berupa 2000 ton beras untuk Rohingya sudah sampai tujuan, dan disalurkan kepada para pengungsi Rohingya. Selain beras, saat ini ACT membangun 1000 unit rumah hunian sementara (shalter).

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) meneguhkan komitmennya untuk membangun kembali kehidupan warga muslim etnis Rohingya.

Saat ini tidak kurang dari 800.000 jiwa, mayoritas anak-anak, wanita, dan lansia hidup dalam kondisi sangat mengenaskan di kamp-kamp pengungsian di Distrik Cox,s Bazar, Bangladesh.

Etnis Rohingya menjadi korban kekejaman tentara Myanmar, sehingga mereka harus tercabut dari akar kehidupannya di negerinya sendiri.

Komitmen ACT mengembalikan kehidupan warga muslim Rohingya itu diwujudkan dengan memberikan bantuan bahan pokok pangan, beras berkualitas sebanyak 2000 ton amanah dari masyarakat Indonesia yang dikirim menggunakan kapal kemanusiaan, dan telah tiba di pelabuhan Chittagong, Sabtu(11/11).

Beras itu langsung dibagikan kepada para pengungsi, dan sisanya disimpan digudang milkik pemerintah setempat. “Amanah masyarakat Indonesia untuk Rohingya diterima dengan baik oleh pemerintah Bangladesh, tetapi memang harus ada administrasi legal dengan proses yang panjang. Beras sempat tertahan cukup lama di pelabuhan Chittagong,” ujar Vice President ACT Iqbal Setiyarso

didampingi rekannya Vice Presiden ACT Insan Noerrohman kepada wartawan di bilangan Cikini, Rabu (15/11). Sejak awal memproses urusan legal pengiriman 2000 ton beras Rohingya di Bangladesh, ACT sudah menyadari bahwa ini tak bakal menjadi sebuah pengiriman ekspor impor biasa.

 

“Ya tentu banyak pemangku kepentingan yang dilibatkan. Urusan ini bukan perkara yang mudah,” kata Iqbal menambahkan. President ACT Ahyudin sebelumnya mengatakan, pengiriman 2000 ton beras dari masyarakat Indonesia ke Rohingya tidak bakal bisa terjadi jika tidak menyatukan banyak kekuatan.

“Di depan pebisnis Bangladesh, pejabat tinggi Bangladesh bidang pengungsi Rohingya, dan perwira militer Bangladesh, kami katakana, bantuan ini adalah bentuk persaudaraan kami sesame bangsa Asia. Seberapa pun besar bantuan dari Indonesia, tak lebih hebat dari kemuliaan bangsa Bangladesh telah memberikan ruang untuk Rohingya,” tutur Ahyudin.

Vice President Insan Noerrohman menambahkan, dua minggu terakhir, ACT membangun 1000 unit hunian sementara (shelter) terbuat dari bahan bamboo dan terpal bagi Rohingya agar mereka bisa tinggal dan hidup lebih layak .

“Sebelum hunian sementara (shelter) selesai, Rohingya menempati kamp-kamp yang sangat sempit, pengab, karena atapnya terbuat dari terpal, dindingnya juga dari terpal, tidak ada jendela, dan lantainya terbuat dari plastik,” kata Insan Noerrohman yang pekan lalu baru pulang dari distrik Cox,S Bazar bersama dr Rizal Alimin, Direktur Global Humanity Response ACT Bambang Triyono, Rudy Purnomo dan sejumlah tim lainnya.

Insan menambahkan, bersamaan dengan pembangunan 1000 unit shelter itu dibangun pula 10 masjid, 10 unit sekolah madrasah, dan 10 unit pasar tradisional. “Kami juga memberikan bantuan chas dana untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi etnis Rohingya,” kata Insan.

Ada tiga aspek yang oleh ACT dipersiapkan dengan baik, yakni masalah infrastruktur 1000 unit Shelter, 10 masjid, 10 madrasah, dan 10 pasar tradisional, wujud nyata dari ACT yang mengemban amanah dari masyarakat Indonesia.

“Kita ingin menunjukkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang bisa membantu kesulitan bangsa lain. Dan, bantuan yang telah diberikan masyarakat Indonesia yang disalurkan oleh ACT, tergolong terbaik dibanding bantuan bangsa-bangsa lain,” kata Insan menambahkan.

Menurut Rudy Purnomo, karena kondisi pengungsian di kamp yang sangat tidak layak, akibatnya banyak anak-anak yang terserang penyakit. Tiga dapur umum kami dirikan untuk menyediakan makanan.

“ Kami berikan paket makanan yang berkualitas baik, nasi putih dan lainnya kare ayam. Ini makanan yang menurut para pengungsi sangat enak dan mewah,” kata Rudy.

Yon Parjiyono
Editor : Yon Parjiyono