logo

Kerja Sama Mahasiswa dan Masyarakat Membangun Desa

Kerja Sama Mahasiswa dan Masyarakat Membangun Desa

Kegiatan KKN diikuti 450 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di seluruh Indonesia. Hasilnya luar biasa dengan membentuk Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), yang kegiatannya sekarang dilanjutkan oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dengan dana besar di semua desa

Oleh : Haryono Suyono

Selama lima belas tahun terakhir, sejak pak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden RI, Yayasan Damandiri yang didirikan oleh Pak Harto, Pak Haryono, Om Liem Sioe Liong (pak Sudono Salim) dan Pak Sudwikatmono aktif membantu mahasiswa melakukan kuliah kerja nyata (KKN) ke desa-desa mengembangkan program berdasar arahan PBB yaitu Millennium Development Goals (MDGs). Kegiatan KKN itu diikuti sekitar 450 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di seluruh Indonesia dan umumnya para mahasiswa dan dosen pembimbing tinggal menetap di desa bergaul dan bekerja dengan masyarakat desa membangun keluarga desa guna mengentaskan kemiskinan dan melakukan kegiatan lain yang diarahkan oleh MDGs.

Hasilnya luar biasa dan sebagian besar kegiatan itu membentuk Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang kegiatannya sekarang dilanjutkan oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dan Instansi lain dengan dana yang makin besar di semua desa. Namun dukungan dan dorongan Yayasan berubah pada pengembangan Desa Mandiri Lestari sebagai model desa sehingga kegiatan KKN berjalan sendiri-sendiri oleh Perguruan Tinggi yang berminat. Beberapa hari lalu para Guru Besar yang tergabung dalam Majelis Penelitian, Dewan Pendidikan Tinggi dari Kementeriam Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mendengarkan pengalaman Kuliah Kerja Nyata di berbagai Perguruan Tinggi untuk masukan kepada Menteri guna tindak lanjut di lapangan.

Dari kesan yang diperoleh, pengalaman KKN Posdaya itu sangat berguna bagi mahasiswa semester ke tujuh untuk mulai bergaul dengan masyarakat desa, mengadakan penelitian kebutuhan masyarakat desa dan bersama masyarakat desa selama satu bulan mengadakan perencanaan pembangunan yang bisa dikerjakan oleh masyarakat desa sendiri secara gotong royong. Usaha gotong royong yang dikembangkan di kalangan masyarakat desa sebagai upaya menghidupkan falsafah Pancasila dalam kehidupan nyata di masyarakat luas sungguh sangat mengesankan. Dalam kegiatan KKN para mahasiswa ditugaskan membentuk Posdaya di setiap desa sebagai forum silaturahmi semua keluarga di desa atau suatu kampung.

Para mahasiswa dengan kerja sama penduduk desa mengadakan pemetaan secara teliti siapa keluarga kaya dan mampu di desa, sekaligus di data keluarga yang masih prasejahtera. Keluarga prasejahtera dijadikan target bersama oleh penduduk desa dibantu dengan kegiatan pemberdayaan agar secara bertahap bisa menjadi keluarga sejahtera. Pemberdayaan yang dilakukan disesuaikan dengan target MDGs yaitu dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan agar setiap keluarga akan memiliki kemampuan makin cerdas dan terdidik untuk dengan mudah mencari pekerjaan di kemudian hari.

Pengalaman berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia itu bermacam-ragam, tetapi umumnya para mahasiswa merasa mendapat kesempatan bergaul dengan masyarakat luas, mendengar aspirasi rakyat terhadap pembangunan dan akhirnya merumuskan pembangunan searah dengan tujuan MDGs yang intinya mendorong upaya pengentasan kemiskinan dan kemajuan yang sangat komprehensif. Para mahasiswa merasa bahwa pengalaman kerja di lapangan itu sangat berharga karena para petugas pemerintah pada umumnya tidak mengerti tentang sasaran MDGs sehingga dalam lima belas tahun terakhir Indonesia dianggap gagal dalam memenuhi target MDGs tersebut.

Tahun lalu target MDGs tersebut dilanjutkan menjadi target Sustainable Developments Goals (SDGs) dengan jumlah target yang lebih banyak yaitu pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, pemeliharaan kekayaan hayati dan pemeliharaan lingkungan untuk anak cucu kita kelak. Target SDGs ini menjadi target dunia dimana kita sebagai anggota PBB ikut memberikan komitmen dan berjanji melaksanakannya di seluruh tanah air. Di samping target SDGs kita juga terikat pada kewajiban moril untuk melaksanakan Nawa Cita yang mengandung sasaran yang mirip dengan sasaran SDGs.

Biarpun Yayasan tidak memberikan dukungan lagi, Perguruan Tinggi yang maju melanjutkan kegiatan KKN tersebut dengan target yang lebih luas karena mahasiswa banyak yang menulis skripsi dari kegiatannya di lapangan, bahkan para dosen pendamping melakukan penelitian untuk Thesis dan Disertasinya dari pengalaman mengawal mahasiswa di lapangan. Dalam pertemuan dengan para pejabat senior dari Kementerian Riset, Teknologi dan Dikti muncul gagasan bahwa mahasiswa Semester ke tujuh yang melakukan KKN itu bisa sekaligus ditugasi dalam kerja sama dengan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi untuk menjadi pendamping dari kegiatan

Kementerian itu bersama aparatnya di seluruh desa di Indonesia. Kerja sama para mahasiswa akhir-akhir ini dengan para anggota PWRI dan TNI di desa-desa yang melanjutkan pembinaan di desa dapat menolong kerja yang dilakukan oleh para mahasiswa setelah mereka kembali ke kampusnya. Bahkan mahasiswa tidak saja dalam KKN tetapi kegiatan penelitian yang berjangka panjang dapat diperbantukan untuk melakukan penelitian berbagai program yang perlu diteliti dampaknya dalam jangka yang lebih panjang agar apabila didapat hasil positif dapat segera dikembalikan kepada desa lain sebagai pedoman operasional. Kerja sama Perguruan Tinggi dengan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi bisa juga memanfaatkan penemuan dalam bidang pertanian dan industri yang sekarang banyak ada di perguruan tinggi tetapi belum banyak disiarkan secara luas ke masyarakat.

Apabila penemuan dalam bidang pertanian seperti tehnik penanaman dengan pupuk Organik bisa menjadi suatu upaya yang diperkenalkan kepada masyarakat luas di pedesaan, maka Indonesia bisa memenuhi permintaan pasar yang makin membesar untuk produk pertanian dengan sistem Organik yang makin marak di dunia. Dalam bidang Industri banyak pula penemuan di kalangan perguruan tinggi yang bisa dikembangkan di desa menjadi desa industri bersama para mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Para dosen Pembimbing dapat dengan mudah mengarahkan para mahasiswa untuk KKN dengan sekaligus mengadakan percobaan yang bermanfaat dalam bidang industri dan pertanian dengan memanfaatkan bahan baku yang asalnya dari desa. Bahkan ada kemungkinan dosen dapat mengarahkan suatu daerah menghasilkan produk unggulan dengan sistem khusus yang diolah secara ilmiah dengan hasil yang berlipat karena rekayasa telah melalui percobaan laboratorium yang melibatkan petani pedesaan.

(Prof Dr Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin RI).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH