logo

Potensi Pariwisata

Potensi Pariwisata

Pembangunan kepariwisataan memberikan prospek terhadap peningkatan kesejahteraan sehingga peningkatan daya saing sektor ini memberikan tantangan.

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi -

Sektor pariwisata bisa menjadi core business yang menjanjikan devisa dan karenanya beralasan jika pemerintah menargetkan perolehan devisa pariwisata nomer 2 di tahun 2019. Urgensi pariwisata, Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan World Tourism Organization menyelenggarakan International Conference on Sustainable Tourism atau ICST di Hotel Royal Ambarukmo Yogya 31 Oktober – 1 Nopember 2017 lalu bertema: “Managing Tourism as Sustainable Business Model for a Sustanaible Future”. Kaitan dengan nilai jual pariwisata maka pemerintah menargetkan sektor ini menjadi pendulang devisa terbesar kedua setelah CPO pada tahun 2019 dan tentu ini menjadi tantangan jika dikaitkan dengan agenda tahun politik yaitu pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019.
 
Pembangunan kepariwisataan memberikan prospek terhadap peningkatan kesejahteraan sehingga peningkatan daya saing sektor ini memberikan tantangan. Paling tidak, aspek internal dan eksternal harus dibenahi untuk mencapai target perolehan devisa pariwisata apalagi perolehan dari sektor pajak semakin berat dicapai, sementara beban APBN kian meningkat untuk pendanaan pembangunan. Dari fakta ini, maka semua sektor harus bisa memberikan kontribusi maksimal dan pilihan terhadap sektor pariwisata tentu beralasan. Data 2016 menegaskan kontribusi sektor ini mencapai US$ 11,3 miliar dan target tahun ini naik 25 persen.
 
Potensi Besar
 
Mengacu data BKPM investasi di sektor pariwisata US$ 602 juta atau 1,45 persen dari total investasi sedangkan pada semester I 2017 mencapai US$ 929 juta atau 3,67 persen dari total investasi. Potensi investasi ini diharapkan memacu jumlah wisatawan manca 20 juta orang sehingga target devisa mencapai Rp.260 triliun. Prospek ini secara tidak langsung menegaskan peran penting sektor pariwisata sebagai leading sector penghasil devisa, selain sebagai core business untuk menumbuhkembangkan kepariwisataan di era otda. Jika dicermati sebenarnya harapan ini selaras dengan komitmen pariwisata secara berkelanjutan yaitu “semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan”.
 
Implikasi dari komitmen tersebut maka pemerintah harus konsisten mendukung tahapan percepatan pembangunan kepariwisataan secara sistematis dan berkelanjutan. Tidak ada kata terlambat untuk segera melakukannya meski ada banyak kendala, termasuk misal keterbatasan dana promosi. Oleh karenanya agenda ICST harus dimanfaatkan untuk bisa mempromosikan nilai jual dan daya tarik kepariwisataan Indonesia. Selain itu harus juga jeli memanfaatkan semua peluang karena sukses dari pembangunan pariwisata secara berkelanjutan akan meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia, mendorong geliat ekonomi di sekitar daerah tujuan wisata – DTW, terbangunnya kesadaran pelestarian sejarah – budaya dan terjaminnya kualitas lingkungan karena ada komitmen bersama untuk menjaganya dari berbagai ancaman kerusakan. Argumen yang mendasari karena semakin banyak kunjungan wisatawan maka ancamannya yaitu kerusakan obyek wisata  di sekitar DTW. Oleh karena itu, sukses pengembangan kepariwisataan berkelanjutan harus juga memadukan dengan pelestarian lingkungan karena harmoni ini adalah wajib.
 
Konsistensi terhadap target pencapaian devisa dari pariwisata maka BPKM menawarkan investasi kepada investor, baik asing atau domestik terhadap sejumlah destinasi wisata prioritas. Harapan ini sejalan dengan realisasi investasi di sektor pariwisata yang rata-rata tumbuh 17 persen pada periode 2012-2016 sedangkan realisasi sampai semester I 2017 yaitu US$ 929 juta atau tumbuh 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Fakta ini secara tidak langsung menggambarkan prospek sektor pariwisata, tidak saja bagi penyerapan tenaga kerja untuk mereduksi pengangguran dan kemiskinan tapi juga potensi sebagai leading sector dan core business yang menyumbang devisa terbesar.
 
Saling Berkait
 
Keyakinan terhadap potensi sektor ini maka beralasan jika agenda ICST harus mampu memetakan semua potensi, peluang, tantangan dan ancaman dari sektor pariwisata agar ke depan semakin menjanjikan bagi devisa. Prospek investasi setidaknya terlihat dari daya tarik investor asing yaitu sampai semester I 2017 didominasi oleh Singapura (47 persen), Cina (29 persen) dan Malaysia (5 persen). Berkaca dari perolehan tersebut maka pada agenda Regional Investment Forum – RIF 2017 di Padang, Sumatera Barat pada 15-17 Oktober 2017 lalu BKPM bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata, BI dan Pemprov Sumatera Barat menawarkan 10 destinasi prioritas pemerintah agar menarik investor untuk terlibat dalam pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata yaitu Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Borobudur (Jawa Tengah), Kepulauan Seribu dan Kota Tua (Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Bromo – Tengger – Semeru (Jawa Timur) dan Mandeg – Gunung Padang (Sumatera Barat).
 
Prospek dari investasi yang ditawarkan memang bukan jangka pendek, namun itu semua bukan berarti tidak menjanjikan karena daya tarik pariwisata bersifat jangka panjang dan tentunya hal ini harus didukung dengan jaminan iklim sospol. Argumen yang mendasari tidak terlepas dari keamanan dan kenyamanan selama berwisata karena hal ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap lama kunjungan. Bali selama ini masih dominan karena rata-rata lama kunjungan 4 hari sedangkan DTW lain masih dibawahnya. Oleh karena itu, perlu pengembangan atraksi wisata yang lebih variatif, termasuk juga aspek dukungan pengembangan sarana - prasarana, misalnya perluasan bandara internasional. Artinya, pembangunan sejumlah proyek infrastruktur di 3 tahun pemerintahan Jokowi harus ditindaklanjuti karena berpengaruh terhadap akses dari dan ke DTW yang tersebar di sejumlah daerah. Hal ini juga menjadi daya tarik bagi investasi di sektor pariwisata. Artinya, agenda ICST juga bisa diharapkan menarik investasi asing melalui prospek investasi yang ditawarkan. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :