logo

Sepuluh Patung Proklamator Dipajang di Teras Museum Sejarah Jakarta

Sepuluh Patung Proklamator Dipajang di Teras Museum Sejarah Jakarta

Masyarakat menganggap Kota Tua itu ya Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah. Makanya banyak  wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara yang mengunjungi MSJ. 

 

JAKARTA (Suara Karya): Sepuluh patung Proklamator Bung Karno  ukuran manusia sesungguhnya, sejak 4 November 2017 dipajang di teras Museum Sejarah Jakarta. Patung berbagai bahasa tubuh dan ekspresi wajah presiden pertama RI itu mengundang perhatian pengunjung Kota Tua, khususnya Museum Sejarah Jakarta di Taman Fatahillah Jakarta Barat.

Kepala UPT Museum Sejarah Jakarta (MSJ), Sri Kusumawati, Selasa (7/11) mengakui, tiap hari pengunjung MSJ cukup banyak dari 2.000 sampai 3.000 orang. Namun sejak ada patung patung  Bung Karno itu banyak pengunjung yang lebih dahulu berfoto bersama karya perupa  Dolorosa Sinaga di teras tersebut, sebelum masuk museum.

Karya seni itu dipajang dalam rangka Jakarta Biennale 2017 yang berlangsung sampai dengan 10 Desember 2017 dengan direktur artistik Melati  Suryodarmo.

Menurut salah seorang kuratornya, Annissa Gultom, pameran serupa juga dibuka di Museum Seni Rupa dan Keramik di Jalan Pos Kota No. 2 Jakarta Barat  sebelah timur laut MSJ dan di Gudang Sarinah Jl Pancoran Timur II No. 4, Jakarta Selatan pada waktu bersamaan. Pameran itu menampilkan 51 karya para seniman dari berbagai negara.

Menurut pengamat budaya dan pariwisata Jakarta, H Abu Galih, dari sepuluh patung Bung Karno yang paling kuat kemiripannya yaitu patung yang di tengah sebelah barat. Tampak menggambarkan tangan kanan menepuk dada dan tangan kirinya memegang tongkat komando. Seakan sesumbar : "Ini dadaku. Mana dadamu".

Sementara satu patung yang di belakang sebelah timur, tidak mengesankan wajah Sukarno presiden pertama RI yang memerintah selama 21 tahun. 

Kembali mengenai Museum Sejarah Jakarta, Sri Kusumawati sebagai Kepala UPT mengakui masyarakat menganggap Kota Tua itu ya Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah. Makanya banyak  wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara yang mengunjungi MSJ. 

"Itu menguntungkan kami," tambah Khasirun  staf Seksi Koleksi dan Preverasi MSJ.

Dari 3.000 koleksi MSJ, yang dipajang di ruang pamer hanya  500 koleksi. 

Yang menjadi unggulan antara lain 2 pedang eksekusi sepanjang 1,15 meter dari abad 17, sketsel kayu jati  gaya Barock dari abad ke 18, lukisan kanvas berukuran 3 x 10 meter karya pelukis S. Sudjoyono tahun 1974. Karya itu yang menggambarkan penyerbuan tentara Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram ke Batavia tahun 1629, dan patung  Dewa Hermes, yaitu dewa perniagaan dalam mitos Yunani.

Menurut Khasirun patung Hermes tadinya di Jembatan Harmoni buatan Jerman tahun 1920. Namun akhir tahun 1990-an terjatuh ke kali dan diamankan Dinas PU Air. 

Setelah itu oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI dibuat replikanya dan dipasang di Jembatan Harmoni. Sedangkan yang asli setelah dikonservasi dipajang di halaman dalam MSJ.

        Pengunjung Meningkat

Sri Kusumawati menjelaskan, dari data yang ada di Tata Usaha, pengunjung MSJ tahun 2017 ini meningkat. Tercatat selama tahun 2016 pengunjungnya 726.885 orang. Yang berarti tiap bulan rata-rata 60.572 orang.

Sedang tahun 2017 sampai Oktober mencapai 656.278 orang atau tiap bulan rata-rata 65.623 orang. 

Berarti tahun 2017 ini jumlah pengunjung tiap bulannya meningkat rata rata lebih 5.000 orang.

Mengenai bunker di depan MSJ sepanjang 30 meter dan lebar 2,5 meter ditutup, Sri Kusumawati menjelaskan sulit mengawasi pengunjung. Dikhawatirkan kalau dibuka pengunjung menyampah di dalamnya. Sedangkan ditutup saja ada saja kertas tisu dan kotoran lain masuk ke dalam bunker. 

Sementara Arkeolog Candrian Attahiyat menyarankan pada jam-jam tertentu seharusnya bunker perlindungan itu dibuka untuk pengunjung agar dapat merasakan sensasi dalam ruang bawah tanah. 

Pengunjung juga ingin melihat Gedung MSJ karena ingin mengenal gedung ini yang akhir tahun 1830 juga pernah   menjadi tahanan sementara Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro sebelum diasingkan ke Makasar oleh pemerintah Belanda. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor :