logo

STIKes Mitra Ria Husada Berulang Tahun

STIKes Mitra Ria Husada Berulang Tahun

Pendidikan yang digelar pada STIKes Mitra Ria Husada mengacu pada pendidikan dengan kualitas tinggi, sehingga lulusannya diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan dan kebidanan yang profesional

Oleh : Haryono Suyono

Dalam suatu acara Dies Natalis yang sederhana, STIKes Mitra Ria Husada, yang terletak di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, merayakan Ulang Tahunnya yang ke 14. Biarpun dilaksanakan dengan cara sederhana, seperti acara Dies Natalis biasa, perayaan yang dilakukan di halaman Gedung Pendidikan yang megah di Cibubur itu disulap seakan seperti dilakukan di Gedung Megah karena halaman tempat upacara disentuh dengan hiasan ornamen yang memberi kesan meriah bagi hadirin yang hadir dengan wajah cerah dihias busana aneka ragam yang menawan. Melalui pembawa acara dua mahasiswi yang cantik dan kompak, acara itu dibuka dengan pembacaan kalam Ilahi oleh dua orang mahasiswi dengan suara khusuk yang indah dan secara langsung diterjemahkan untuk seluruh tamu yang hadir dengan tekun.

Peserta upacara terkesan lengkap terdiri para dosen yang umumnya kaum perempuan dengan dikawal oleh ketuanya seorang Dokter Ahli Kandungan, Dr Halim Sorimuda Pohan SpOG yang konon telah sangat berpengalaman di lapangan dengan setumpuk jasa menolong pasien ibu melahirkan di Medan, Sumatera Utara dan di Jakarta.

Hadir juga mantan ketuanya, Dr Sri Hartati P Pandi MPH mantan Deputi BKKBN, yang pernah menjabat sebagai ketua selama delapan tahun dikawal Ketua Yayasan YKBRP, Ibu Milangoni Subiakto serta para tokoh Yayasan YKBRP lain seperti Ibu Emil Salim, Ibu Wiwiek Basuni, Ibu Hendro Priyono, Ibu Ida Nasution dan banyak tokoh lainnya, yang biarpun sudah sepuh tetapi tetap nampak cantik dan berwibawa. Hadir pula utusan khusus dari Kopertis Wilayah III DKI Jakarta yang kemudian memberi sambutan yang membesarkan hati. Di barisan belakang hadir ratusan mahasiswi dan simpatisan perguruan tinggi ini dengan wajah cerah biarpun telah hadir sejak pagi hari.

Setelah pembacaan ayat suci Al Qur’an, upacara yang menjadi sangat khusuk itu dilanjutkan dengan menyanyikan bersama lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh semua hadirin dengan khidmat. Setelah itu, tidak kurang dari sepuluh mahasiswi dengan pakaian seragam baju merah menyala tampil ke panggung membawakan Mars perguruan tinggi yang mereka banggakan dengan penuh semangat, sehingga para penyanyi mahasiswi yang sudah dewasa itu kelihatan masih seperti gadis-gadis SMA yang ceria.

Selanjutnya berturut-turut mahasiswi yang berasal dari seluruh Indonesia tampil memukau menyajikan berbagai tarian dengan iringan musik daerah yang diputar oleh petugas yang bersembunyi di belakang layar. Penari yang umumnya calon ahli kesehatan dan siswa bidan itu tidak canggung menari dengan gaya yang memukau seakan sudah sangat profesional, sehingga mengundang tepuk tangan teman-temannya yang barangkali mengikuti pelatihan mereka setiap hari menjelang hari H yang dianggap sangat penting ini.

Untuk memberi makna hari ulang tahun yang penuh kenangan, Ketua Yayasan memberikan tanda penghargaan kepada dosen dan karyawan, termasuk Satpam, yang telah mengabdi pada Perguruan Tinggi itu selama sepuluh tahun atau lebih. Wajah para penerima penghargaan, biarpun bervariasi tugasnya, tetapi masing-masing mengenakan pakaiannya yang terbaik, baju putih dan celana gelap, bahkan salah seorang di antaranya mengenakan dasi dengan penampilan yang cukup gagah. Sayangnya penghargaan yang diberikan hanya berupa selembar “Sertifikat” kecil, lupa tidak disertai bingkisan tebal yang biasanya diberikan sebagai kado pada perayaan Hari Ulang Tahun.

Dr Hakim Sorimuda Pohan SpOG yang kemudian memberikan sambutan, sekaligus memberikan laporan ulang tahun yang ke 14 dengan penuh kebanggaan menyatakan bahwa pendidikan yang digelar pada STIKes Mitra Ria Husada mengacu pada pendidikan dengan kualitas tinggi sehingga lulusannya diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan dan kebidanan yang profesional guna menjamin agar pasien yang sakit atau melahirkan akan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh lulusan sekolah tinggi yang ingin menjadi yang terbaik di Jakarta dan di seluruh Indonesia tersebut.

Dengan semangat tinggi, dalam pidatonya memberitahukan bahwa bersama rekan perguruan tinggi swasta lainnya, mengabarkan bahwa mereka menolak prakarsa Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Agama yang mengajak para dosen dan mahasiswa memerangi radikalisme di kalangan kampus. Mereka merasa yakin bahwa para mahasiswa swasta tetap yakin akan falsafah bangsa Pancasila dan UUD 1945.

Mereka yakin bahwa para mahasiswa mengikuti kuliah dengan baik dan bercita-cita menjadi pemimpin bangsa yang sanggup membawa negara dan seluruh rakyat Indonesia mencapai cita-cita kemerdekaan yang telah dicanangkan oleh nenek moyangnya menjadi bangsa besar yang membanggakan, mandiri, adil dan makmur di kemudian hari.

Dengan menceritakan peristiwa kecelakaan tragis yang baru saja terjadi pada suatu perusahaan petasan, Dr Pohan menuturkan bahwa perguruan tinggi ini memiliki program studi yang di mana mereka kerja nanti masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), yaitu memberi bekal kepada mahasiswa lulusannya bisa menjadi pengawal dan pengawas kecelakaan kerja dan diharapkan bisa memberi masukan kepada perusahaan untuk waspada dan menjamin keamanan bagi pekerja yang bekerja di berbagai lapangan kerja yang makin meluas di Indonesia. Beliau juga meyakinkan kepada para pembina, rata-rata istri mantan Menteri pada jaman Presiden Soeharto, bahwa perguruan tinggi yang didirikan oleh Ibu Tien Soeharto pada tahun 2003 itu, mementingkan kualitas yang unggul serta dedikasi dosen yang mendorong komitmen mahasiswanya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien yang akan dilayaninya pada saat mereka terjun ke lapangan nanti.

Pidato ulang tahun Ketua STIKes yang bersemangat itu dilanjutkan dengan sambutan Pembina Yayasan YKBRP, Haryono Suyono, yang memberi tekanan yang meyakinkan bahwa Ibu Tien Soeharto mewariskan suatu perhatian yang tinggi kepada generasi muda, utamanya pasangan usia subur dengan jaminan sehat dan sejahtera pada waktu hamil dan melahirkan,  agar dapat bekerja dengan cerdas dan keras sehingga menjadi keluarga yang sejahtera. Oleh karena itu,  para dosen dan mahasiswa diberikan pujian atas dedikasinya yang tinggi memelihara pengajaran dan pendidikan yang bermutu pada perguruan tinggi STIKes yang mereka asuh.

Dari pengalaman selama ini ternyata para lulusan STIKes ini lebih 90 persen lolos sertifikasi sehingga dapat langsung bekerja di lapangan, di Puskesmas, Klinik atau pelayanan swasta tanpa halangan. Dari kalangan lain di seluruh Indonesia dewasa ini ada sekitar 200.000 lulusan sekolah tinggi kesehatan dan bidan yang terpaksa harus mengulang sertifikasi berulang-ulang karena mutu yang belum memenuhi syarat. Untuk itu diminta agar para dosen dan mahasiswa tetap tekun dan siap terjun ke desa guna memberikan yang terbaik untuk rakyat Indonesia yang bekerja keras mengisi kemerdekaan menjadi bangsa yang maju, sehat dan sejahtera.

Di tekankan juga oleh Haryono bahwa dewasa ini, seperti di masa pak Harto, Presiden Jokowi sedang getol-getolnya membangun desa menjadi seperti kota dengan tempat-tempat rekreasi yang indah di desa, tempat tinggal di desa seakan seperti di kota dan kesempatan pelayanan publik yang lengkap di desa tidak kalah menariknya di desa. Masa depan desa di Indonesia akan begitu maju sehingga hidup di desa dan di kota bisa hampir tidak ada bedanya karena fasilitas di pedesaan akan sama nyamannya dengan fasilitas yang tersedia di kota.

Oleh karena itu para mahasiswa tidak perlu kawatir untuk sejak masa kuliah membiasakan diri melakukan kerja lapangan di desa sehingga tidak terkecoh oleh kehidupan kota yang kelihatan menarik padahal di desa tidak kalah nikmatnya dibanding di kota. Pada bagian akhir dari acara Dies Natalis yang ke 14 itu di lingkungan Klinik Bersalin yang ada di Kompleks Perguruan Tinggi yang anggun itu diresmikan suatu ruangan yang dirancang menampung anak-anak batita dan balita sebagai Day Care Center agar keluarga muda yang memiliki bayi dan anak di bawah usia lima tahun dapat membawa anaknya ke tempat kerja dan menitipkan anak-anaknya di tempat ini selama bekerja. Karena jarak tempat kerja yang tidak terlalu jauh, ibu muda yang bekerja dapat setiap kali datang memberi air susu kepada bayinya sehingga bayi di bawah usia dua tiga tahun tetap dapat disusui oleh ibunya dan tidak harus diganti dengan susu buatan selama ibu bekerja. Fasilitas ini kecuali melayani anak-anak dari dosen yang mengajar juga bisa dimanfaatkan oleh pekerja kantor-kantor di sekitar.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Pembina YKBRP).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH