logo

Jakarta Biennale 2017 Pamerkan Kreasi 51 Seniman

Jakarta Biennale 2017 Pamerkan Kreasi 51 Seniman

Kreasi Hendrawan Riyanto (alm). (Foto: lakdito)
Sebanyak 51 seniman dalam dan luar negeri memamerkan kreasi kontemporer di Gudang Sarinah Ekosistem Jakarta. Pergelaran berlangsung 5 November - 11 Desember 2017.

JAKARTA (Suara Karya): Upaya untuk memahami seni budaya Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah seni masa lampau. Sejumlah karya besar dari seniman besar menjadi bagian dari masa lalu yang kemudian menjadu inspirasi karya seni lanjutan melalui beragam genre.

Pemikiran itulah yang kemudian disampaikan Melati Suryodarmo, Direktur Artistik Jakarta Biennale 2017, sebagai landasan pameran seni akbar 2 tahunan yang resmi digelar di Gudang Sarinah Ekosistem Jakarta, Sabtu (4/11) dan akan berlangsung hingga 11 Desember di Jakarta.

Tema "Jiwa" yang diusung Jakarta Biennale 2017 merupakan landasan pertukaran pemikiran tentang berbagai isu dan pertanyaan atas seni dan budaya kontemporer. "Jiwa" diartikan sebagai daya hidup, energi dan semangat terhadap manusia dan benda.

“Menghadirkan perjalanan awal sejarah seni rupa Indonesia, bertujuan menemukan keterhubungannya dengan masa kini dan masa depan," ungkap Melati beralasan.

Beberapa karya seni kontemporer yang dihadirkan dalam Jakarta Biennale 2017 di antaranya jalur silsilah budaya, polemik yang pernah muncul pada tokoh dan peristiwa seni, kritik seni yang pernah ada baik yang terungkap maupun yang tersembunyi atau terlupakan.

Sebanyak 51 seniman dalam dan luar negeri terpilih oleh tim kurator Indonesia untuk memamerkan hasil seni mereka, yang dianggap sebagai "jiwa" pada masing-masing genre seni.

Misalkan kreasi alm. Hendrawan Riyanto masih terpilih sebagai hasil seni kontemporer berbahan tanah liat yang dinilai menjadi sumber ilham bagi perkembangan seni tembikar hingga kini.

Kreasinya tersaji di tengah area pameran, dan sebuah film dokumenter karya Garin Nugroho menyertai perjalanan seni sang kakak yang kini telah tiada.

Selain pameran seni, pergelaran dua tahunan ini juga mengusung sejumlah program lainnya yang juga terkait dengan tema Jiwa, di antaranya seri penerbitan buku terkait penulisan kritis tentang sejarah seni Indonesia masa kini.

Jakarta Biennale 2017 berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, dan di sejumlah museum di Jakarta, seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor :