logo

Bidan KB Jadi Doktor dengan Predikat Cum Laude

Bidan KB Jadi Doktor dengan Predikat Cum Laude

Pada tahun 1970 – 1980-an jumlah bidan di Indonesia hanya 8.000 orang tersebar di rumah sakit dan sebagian terpaksa melayani ibu hamil, melahirkan dan ikut membantu memelihara anak balita di rumah pasiennya setelah selesai kerja di rumah sakit.

Oleh : Haryono Suyono

Minggu lalu saya diundang oleh Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Ibu Prof Dr drg Hj Ida Ayu Brahmasari Dpl DHE MPA, sebagai guru besar tamu guna ikut menguji seorang mahasiswa S3 Program Studi Doktor Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) perguruan tinggi yang terhormat itu di Surabaya. Segera mengetahui siapa yang akan diuji, yaitu seorang Bidan yang di masa lalu banyak sekali jasanya ikut menangani gerakan KB di Indonesia, berjuang bersama ribuan bidan di seluruh Indonesia, keluar masuk desa dengan gigih memberi petunjuk dan menangani pemasangan alat kontrasepsi, tanpa ragu-ragu undangan itu saya diterima dengan rasa syukur.

Satu minggu kemudian, pada waktu membaca disertasi promovenda, dengan perasaan haru dan penuh rasa syukur, kami melihat bahwa promovenda sebagai bidan adalah pahlawan yang tetap membela rekan-rekannya dengan gigih. Laporan penelitiannya yang serius dan sangat bermutu dituangkan melalui bahasa yang jelas dan lugas dalam disertasi yang berbobot itu,  dilandasi dengan catatan dan referensi yang kaya, serta hasil diskusi dan pengamatan yang sangat luas pada kalangan pendidikan bidan dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia.

Jabatannya sebagai tenaga kesehatan dan perguruan tinggi dengan pengalaman yang panjang mengantar penelitian dan interview dengan berbagai kalangan dengan sangat cermat.  Sehingga,  laporannya sesungguhnya tidak saja harus muncul dalam suatu disertasi ilmiah, tetapi bisa menjadi referensi berbagai Pimpinan dan staf Kementerian yang bertanggung jawab terhadap penyediaan dan kualitas tenaga kesehatan di Indonesia. Sebagai mantan pejabat membaca disertasi itu diingatkan dengan sangat terharu bahwa di tahun 1970 – 1980-an jumlah bidan di Indonesia hanya 8.000 orang tersebar di rumah sakit dan sebagian terpaksa melayani ibu hamil, melahirkan dan ikut membantu memelihara anak balita di rumah pasiennya setelah selesai kerja di rumah sakit.

Ibu-ibu bidan pada waktu itu hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat karena biarpun jasa dukun bayi masih populer tetapi tingkat kelahiran yang masih tinggi, tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan yang tinggi mendorong kesadaran penggunaan jasa bidan yang makin meningkat. Karena kesadaran yang makin meningkat itu maka penggunaan jasa bidan untuk menolong melahirkan dan memelihara ibu setelah melahirkan juga naik secara sistematis. Apalagi program KB yang dimulai pada tahun 1970, sejak tehun 1973 meningkat secara drastis dan dikembangkan bukan lagi atas basis klinik, tetapi melangkah ke desa sebagai pendekatan kemasyarakatan yang meminta jasa bidan untuk bersama PLKB terjun menjelaskan dan melayani peserta KB baru dan memberi petunjuk peserta yang sudah ada di desa-desa.

Kesibukan bidan menjadi berlipat ganda. Bahkan pada tahun 1980-an sejak program KB makin merambah desa, maka bidan yang jumlahnya sangat terbatas itu tidak sempat lagi beristirahat. Pada tahun 1980-an itulah terjadi akselerasi program KB dengan percepatan program dan penggarapannya yang diarahkan ke desa sehingga ditargetkan agar jumlah bidan yang 8.000 orang segera ditingkatkan menjadi sekitar 60.000 orang, sehingga setiap desa bisa memiliki satu bidan.

Permintaan penambahan bidan yang demikian besar memberi kesempatan tumbuhnya sekolah tinggi yang menghasilkan bidan. Bahkan, setelah target jumlah bidan itu tercapai rupa-rupanya sekolah tinggi yang menghasilkan bidan tetap mendapat peminat yang tinggi, sehingga ada juga kecenderungan kualitas bidan yang dihasilkan dianggap kurang memenuhi syarat. Rupanya sebagian kebablasan yang menghasilkan lulusan yang oleh sementara pihak dianggap kurang memenuhi syarat dan perlu dilakukan berbagai upaya agar para lulusan itu, bukan saja bidan tetapi juga tenaga kesehatan lainnya seperti ners, memenuhi syarat.

Salah satu penyelesaian yang pernah dilakukan adalah dengan mengembangkan program Bidan Delima yang disponsori suatu lembaga donor. Hasilnya sungguh luar biasa karena pendekatannya adalah dengan menambah pengetahuan, teknik penanganan kasus serta praktek yang dituntun dan didampingi oleh bidan senior yang berpengalaman. Pendekatan lain yang kurang simpatik adalah dengan “mengeluarkan larangan” dan “membatasi gerak bidan” untuk tidak diperkenankan melakukan kegiatan pelayanan seperti pemasangan spiral di tempat lain kecuali di rumah sakit atau dengan pengawasan dokter yang dianggap kompeten.

Pendekatan ini menjadi tidak simpatik karena tidak ada usaha meningkatkan kemampuan bidan yang ada sehingga pelayanan kontrasepsi menjadi terhambat dan pelayanan pendekatan kemasyarakatan yang luas kembali pada pendekatan kuno melalui pelayanan di rumah sakit atau di klinik yang terbatas, padahal peserta KB bukan orang sakit tetapi orang sehat yang ingin tetap sehat dan sejahtera.

Program KB merosot drastis dan tingkat kelahiran meningkat kembali. Dalam Penelitiannya Dr. Gunarmi menemukan setidaknya tiga penemuan yang menarik dan dari penelitiannya mengusulkan satu model untuk dipertimbangkan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dewasa ini. Tiga penemuan itu adalah pendidikan dan lulusan sekolah seperti di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang relatif berkualitas sehingga menghasilkan lulusan dengan presentase yang tinggi. Yang kedua adalah sekolah di Bukit Tinggi, De Kock yang memiliki Unit Sertifikasi yang menjamin lulusan perguruan tinggi itu memiliki kualitas yang dapat diandalkan. Yang ketiga adalah keberanian Dinas Kesehatan dan Gubernur Jawa Timur yang mengadakan Sertifikasi secara lokal yang menjamin lulusannya bisa praktek di daerah Jawa Timur saja.

Usulan model yang dibuat Dr. Gunarmi adalah sertifikasi itu melekat pada saat ujian akhir di setiap Perguruan Tinggi sehingga setiap perguruan tinggi dengan sungguh-sungguh mendidik anak-anaknya dengan mutu yang tinggi, menguji anak didiknya segera bekerja mengabdi menjamin anak bangsa ini sehat dan sejahtera dengan kualitas yang dapat diandalkan. Model ini tentu harus diuji karena disparitas antar daerah yang sangat tinggi sehingga apabila model ini diterapkan, pasti disarankan agar kemampuan setiap perguruan tinggi, utamanya di tempat yang jauh dari Ibu Kota, terlebih dulu diperbaiki sehingga lulusannya dapat dipertanggung jawabkan.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin RI).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH