logo

Mengisi Hari Sumpah Pemuda Dengan Pembangunan

Mengisi Hari Sumpah Pemuda Dengan Pembangunan

Selama lebih dari lima puluh tahun merdeka upaya untuk menggalang persatuan dan kesatuan atas dasar falsafah Pancasila sungguh sangat sulit. Di satu pihak kita bicara tentang persatuan dan kesatuan tetapi di lain kesempatan kita berusaha menunjukkan persaingan yang tidak ada habisnya.

Oleh : Haryono Suyono

Secara historis Sumpah Pemuda merupakan komitmen politik dari para pemuda yang sangat sakral,  dilandasi tekad  luar biasa dengan kesadaran  tinggi demi kekuatan bersama mempersatukan diri dengan menyisihkan segala jenis perbedaan,  dengan penuh keikhlasan demi persatuan untuk menghadapi musuh bersama demi kemerdekaan bangsa dan negaranyha. Suatu tekad para pemuda yang kemudian menjadi nenek moyang kita dan diwariskan kepada anak cucunya,  bukan hanya dalam bentuk kata-kata saja tetapi berupa suatu negara dan bangsa yang merdeka dan berdaulat. Negara dan bangsa merdeka dan berdaulat itu diperjuangkan oleh nenek moyang dengan menghilangkan segala hambatan dengan ikhlas dan mengorbankan jiwa raga demi anak cucunya serta generasi mendatang yang mereka harapkan akan lebih baik tidak seperti kehidupan mereka yang terbelenggu penjajahan yang ganas dan menghalangi kebebasan, kemajuan dan pilihan jalan hidup yang bahagia dan sejahtera.

Namun selama lebih dari lima puluh tahun merdeka upaya kita untuk menggalang persatuan dan kesatuan atas dasar falsafah Pancasila sungguh sangat sulit. Di satu pihak kita bicara tentang persatuan dan kesatuan tetapi di lain kesempatan kita berusaha menunjukkan persaingan yang tidak ada habisnya. Suatu keputusan positif bukan dibahas bagaimana melaksanakannya untuk kepentingan rakyat banyak tetapi justru dicari bolong bolongnya untuk dibahas bagaimana keputusan itu menjadi mentah dan tidak pernah dilihat pelaksanaannya di lapangan.

Sementara negara lain maju pesat negara kita bertambah miskin. Data kemiskinan di baca seakan menurun, padahal penurunannya tidak signifikan. Penurunan angka dalam presen yang kecil menjadi bahan ocehan, padahal dalam hal jumlah keluarga dan penduduk miskin di Indonesia bertambah banyak karena jumlah penduduknya meningkat dengan sangat tajam. Upaya pengentasan kemiskinan yang baru menggarap perbaikan infra struktur sudah dituntut dari segi penurunan kemiskinan, sehingga Menteri atau pejabat struktural menjadi sibuk melayani pertanyaan yang tidak relevan.

Di forum lain upaya dialog radio dan televisi bukan mencari dukungan tetapi bagaimana membenarkan kritik yang sesungguhnya tidak relevan karena tidak cocok dengan tahapan program yang sedang dilaksanakan. Itu semua memberi masukan kepada rakyat banyak bahwa arah pembangunan terkesan tidak tepat karena pejabat yang ikut dalam wawancara tidak bisa menjawab kritik dengan wajar,  sehingga pejabatnya menjadi kecil hati atau ragu-ragu apakah upaya yang dikerjakannya tidak mendapat dukungan rakyat banyak.

Oleh karena itu, setiap jajaran pemerintah yang mengkoordinasikan kegiatan pembangunan dengan melibatkan rakyat banyak perlu suatu kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi yang rapi kepada rakyat banyak,  bukan untuk mengajak mengkritik apa yang dilaksanakan oleh pemerintah tetapi sejak awal diajak ikut memikirkan masalah bersama, merumuskan secara terbuka langkah-langkah yang perlu diambil dan akhirnya merumuskan program yang dapat dilaksanakan dengan mengundang partisipasi rakyat banyak secara positif dan konstruktif. Rakyat dilibatkan bukan sebagai tukang kritik tetapi sebagai pelaksana sukarela membantu keluarga miskin sebagai sasaran agar aktif menjemput bola. Sasaran mudah mengerti langkah-alangkah yang akan diambil serta mempersiapkan diri untuk terjun dalam kegiatan yang prakarsa dan mungkin saja sarana untuk pemberdayaan telah disediakan oleh pemerintah.

Pada Hari Sumpah Pemuda 2017, Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Drs. Eko Putro Sandjojo, MBA, mengadakan peninjauan ke desa-desa antara lain meninjau kegiatan budidaya jamur di Sleman, Yogyakarta. Beliau terkesan melihat kegigihan rakyat mengembangkan jamur dengan tekun dan ternyata dapat mendatangkan kesejahteraan kepada keluarganya. Beliau berpendapat bahwa dengan sentuhan sedikit saja produksi jamur seperti yang dihasilkan itu bisa menjadi komoditas ekspor yang sangat menguntungkan. Apalagi produksi jamur itu mengandalkan limbah dari tukang gergaji yang apabila tidak dimanfaatkan untuk budidaya jamur bisa tidak berguna dan menjadi sampah yang perlu dilenyapkan. Sebelum komoditas itu dapat diekspor ke luar negeri perlu lebih dulu dikembangkan industri jamur yang lebih banyak sehingga volume jamur yang dihasilkan suatu daerah ditambah daerah lain di Indonesia cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan yang bisa makin banyak untuk ekspor dan harus sangat reguler agar tidak mengecewakan konsumen atau negara penerima. Tempat yang menyediakan bahan untuk keperluan produksi jamur dikembangkan sehingga terjadi sinergi yang saling menguntungkan dan mempermudah proses produksi yang akan menjadi besar karena kebutuhan yang meningkat.

Skala kebutuhan akan proses produksi bukan hanya untuk keperluan lokal tetapi menjadi suatu proses yang diarahkan untuk keperluan pasar yang besar dan berkelanjutan. Apabila tidak demikian maka ekspor jamur itu akan menjadi ekspor komoditas yang langka dan eksportir akan sangat kecewa karena kontinuitas yang tidak memadai. Dalam hal produksi jamur di Sleman Yogyakarta itu kita melihat bahwa rumah makan yang menyediakan makanan, sayuran dan segala makanan kecil dari jamur ternyata laris manis dan biarpun tempatnya tidak di Jalan Malioboro yang dengan mudah dapat dijangkau oleh banyak turis, selalu ramai dan penuh dengan pengunjung. Pengunjung restoran itu yang semula sangat terbatas, dewasa ini mampu mendatangkan tamu dari aneka suku bangsa karena sekaligus telah menjadi destinasi turis yang menarik. Jenis makanan dan makanan kecil yang tersedia dan dapat dinikmati dari hari ke hari makin bervariasi sehingga mendatangkan selera yang makin bervariasi juga. Kemampuan mengangkat kearifan lokal semacam ini, dalam rangkaian Hari Sumpah Pemuda, ada baiknya segera ditangkap dan dikembangkan melalui pelatihan yang intensif kepada khalayak dan entrepreneur muda di desa-desa. Serentak dengan itu dikenali daerah-daerah yang menghasilkan pusat-pusat bahan atau sarana produksi yang tersedia sehingga apabila diperlukan perluasan dapat dengan mudah di fasilitasi.

Kalau ini sudah dipetakan, maka diminta agar keluarga yang maju diajak melatih dan berbagi dengan rekan lainnya. Tentu harus dijamin bahwa makin banyak yang dilatih makin banyak juga yang akan mampu memproduksi jamur dengan kualitas yang makin baik. Dengan sendirinya dari pihak pemerintah bisa membantu melalui perbankan yang mengulurkan tangan untuk membantu permodalan dan pasar yang makin luas dan tidak merugikan. Perluasan tenaga terampil dalam produksi perlu disertai kampanye perluasan konsumen dalam negeri agar pada tingkat awal produksi awal dari pengembangan industri jamur dapat diserap di dalam lingkungan lokal. Kemampuan menangani permintaan lokal akan menjadi pelajaran yang sangat penting untuk menjadi pemasok bagi konsumen ekspor dikemudian hari.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Sosial).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH