logo

Potensi Bonus Demografi

Potensi Bonus Demografi

Bahkan, komitmen himpunan pengusaha muda atau Hipmi merubah paradigma pencari kerja harus didukung sehingga orientasi kaum muda tidak melulu cari kerja tapi bisa menciptakan lapangan kerja, setidaknya bagi dirinya sendiri. Orientasi membuka lapangan kerja di era kekinian sebenarnya sangat prospektif

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

‘Pemuda Indonesia Berani Bersatu’ adalah tema Hari Sumpah Pemuda - HSP ke-89 pada 28 Oktober lalu. Tema ini menarik dicermati terutama dikaitkan era tantangan generasi muda yang kini disebut generasi dotcom karena melek teknologi dan terkoneksi dengan jejearing internet dan sosial media. Oleh karena itu, berani bersatu bagi kaum muda di era kekinian adalah bagaimana membangun kewirausahaan karena peluangnya sangat besar dan didukung komitmen pemerintah untuk menumbuhkembangkan kewirausahan di kalangan generasi muda.

Bahkan, komitmen himpunan pengusaha muda atau Hipmi merubah paradigma pencari kerja harus didukung sehingga orientasi kaum muda tidak melulu cari kerja tapi bisa menciptakan lapangan kerja, setidaknya bagi dirinya sendiri. Orientasi membuka lapangan kerja di era kekinian sebenarnya sangat prospektif karena pasar semakin terbuka, akses perbankan semakin mudah dan pemasaran secara online juga sangat dimungkinkan, terutama dukungan jejaring internet dan tarifnya yang kian murah, apalagi didukung pasar e-commerce yang semakin luas termasuk juga dukungan regulasi melalui UU ITE yang memberikan keamanan, privasi dan kenyamanan.

Tema HSP pada dasarnya mengisyaratkan tantangan kewirausahaan yang dilakukan generasi muda. Argumen yang mendasari karena jumlah lulusan SMA dan pendidikan tinggi semakin banyak dan pemerintah nampaknya memang harus lebih meningkatkan demam kewirausahaan, terutama bagi generasi muda.

Terkait ini, Menkop dan UMKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga menegaskan ratio wirausaha di Indonesia naik dari 1,67 persen di tahun 2013/2014 kini menjadi 3,1 persen. Dari jumlah penduduk 252 juta ternyata jumlah wirausaha non-pertanian mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen. Dari rasio 3,1 persen ternyata masih lebih rendah dibandingkan Malaysia 5 persen, Cina 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen dan AS 12 persen.

Faktor yang dapat mendukung harapan ini adalah bonus demografi dalam bentuk kuantitas dan kualitas kaum muda di Indonesia yang jumlahnya terus bertambah secara signifikan. Di satu sisi, potensi ini harus dimanfaatkan maksimal meski di sisi lain ada juga ancaman dari bonus demografi jika tidak dapat mengelola dengan baik.

Tantangan

Pertumbuhan kewirausahaan di Indonesia tidak terlepas dari peran pemerintah, kampus, perbankan, BUMN dan peran swasta. Selain itu terjadinya perubahan keperilakuan yang menjadikan kewirausahaan sebagai lifestyle di era kekinian secara tidak langsung juga berperan penting dalam menumbuhkembangkan kewirausahaan di Indonesia.

Terkait ini peran kredit murah dari perbankan bagi pelaku usaha mandiri dan muda juga berperan penting bagi lahirnya sejumlah wirausahawan muda karena memang salah satu kendala utama wirausaha adalah keterbatasan modal. Oleh karena itu, peran perbankan dalam penyaluran KUR dan kredit ultra mikro yang baru diluncurkan  diharapkan bisa untuk mereduksi kendala permodalan bagi calon wirausahawan.

Rasio 3,1 persen secara tidak langsung juga menegaskan bahwa kemajuan negara juga ditentukan oleh seberapa besar pelaku kewirausahaan. Statistik juga menunjukan batas minimal pelaku wirausaha di suatu negara untuk berkembang lebih baik yaitu 2 persen. Artinya, wirausaha di republik ini sudah meningkat dan tentu ini menjadi peluang bagi dunia pendidikan khususnya untuk memacu generasi muda agar berani menjadi pelaku wirausaha dan menjadi pelaku produksi.

Di sisi lain hal ini juga perlu menjadi perhatian bagi semua pihak untuk memacu etos kewirausahaan terutama generasi muda agar tidak terjebak rutinitas mencari pekerjaan, tetapi justru berusaha untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, peran Hipmi juga dibutuhkan untuk mendukungnya.

Komitmen

Yang sangat menarik dicermati ternyata mayoritas pelaku wirausaha dari generasi muda tidak mendapatkan ilmu dari dunia pendidikan tinggi, tetapi justru muncul dari ide-ide kreatif dan tuntutan survive di tengah persaingan mencari pekerjaan yang semakin sulit. Hal ini secara tidak langsung menunjukan pendidikan di Indonesia seharusnya tidak lagi berkutat dengan penetapan standar kelulusan ujian yang justru memicu kontroversi. Model pendidikan juga jangan rancu memandang realitas kurikulum sehingga selalu muncul cibiran ganti menteri ganti kurikulum. Terkait ini, seharusnya dunia pendidikan memadukan dengan fenomena riil yang berkembang, termasuk juga tuntutan pentingnya penumbuhkembangan kewirausahaan. Oleh karena itu sedari dini, dunia pendidikan kita perlu menciptakan stimulus terhadap penciptaan kewirausahaan dan hal ini setidaknya bisa dilakukan sejak SD hingga program pascasarjana.

Konseptual membangun kewirausahaan bukanlah persoalan mudah karena tidak bisa terlepas dari mental, budaya, norma, tradisi, prinsip dan pandangan sosial - masyarakat bahwa menjadi pekerja, terutama PNS lebih bermartabat dibanding menjadi wirausaha. Membangun sinergi antara pendidikan dan kewirausahan pada dasarnya tidak bisa lepas dari urgensi kewirausahaan yang seharusnya menjadi gaya hidup generasi muda. Alasan yang mendasari tidak sekedar mereduksi laju pengangguran dan kemiskinan, tetapi juga peningkatan nilai tambah dan juga pengembangan industri kreatif berbasis sumber daya lokal.

Jika tiap daerah bisa melahirkan jumlah wirausahawan muda secara proporsional dengan jumlah generasi mudanya, maka bukan tidak mungkin perekonomian di daerah akan cepat berkembang. Tema HSP kali ini selaras dengan komitmen bagi kaum muda untuk bersatu menumbuhkembangkan kewirausahaan untuk memacu kesejahteraan dan kemakmuran nasional agar jangan sampai isu pengangguran - kemiskinan justru dijual sebagai isu strategis dalam pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :