logo

Sutan Muhammad Zain Pelopor Bahasa Indonesia

Sutan Muhammad Zain Pelopor Bahasa Indonesia

Sutan Muhammad Zain semasa muda (Wikipedia)
Sutan Muhammad Zain banyak memberikan kontribusi pada cikal bakal bahasa pemersatu bangsa yaitu bahasa Indonesia. Selain itu, Sutan Muhammad Zain  berperan pada terwujudnya kemerdekaan RI lewat karyanya mendidik bangsa.

JAKARTA (Suara Karya): Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengagumi sosok mendiang Prof Sutan Muhammad Zain sebagai pelopor Bahasa Indonesia.

Habibie menyampaikan apresiasinya terhadap Sutan Muhammad Zain dalam peluncuran dua buku karya profesor tersebut yakni "Kenangan Peralihan Masa" dan "Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatera Era Klasik" di Jakarta Selatan, Sabtu (14/10).

"Dia adalah pelopor dari Bahasa Indonesia, ujar Habibie saat memberi kata sambutan dalam acara tersebut.

Dia sempat bertemu dengan mendiang saat berkunjung ke tempat tinggal Sutan Zairin Zain yang merupakan anak sulung dari Sutan Muhammad Zain. Saat itu, Zairin Zain menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Jerman. 

"Saya diundang oleh Zairin Zain untuk tinggal di rumahnya, di situ ada almarhum (Sutan Muhammad Zain), beliau sedang mempersiapkan bukunya tentang Sriwijaya," tuturnya.

Dia mengatakan publik dapat belajar dari kegigihan dan kerja keras Sutan Muhammad Zain untuk bisa meningkatkan kualitas kehidupannya tanpa bergantung pada orang lain.

Dia mengatakan Sutan Muhammad Zain banyak memberikan kontribusi pada cikal bakal bahasa pemersatu bangsa yaitu bahasa Indonesia.

Selain itu, Habibie memandang Sutan Muhammad Zain sebagai pahlawan atau pejuang yang juga berperan pada terwujudnya kemerdekaan RI lewat karyanya mendidik bangsa.

"Tidak ada Sumpah Pemuda kalau tidak ada perjuangan mereka (para pejuang termasuk Sutan Muhammad Zain). Tidak ada Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 kalau tidak mereka ini," tegasnya seperti dikutip Antara.

Karena untuk memproklamirkan diri sebagai suatu bangsa yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Habibie mengatakan ada tiga kriteria yang harus dipenuhi yaitu bahasa, nilai-nilai yang sama yang ditentukan oleh sinergi positif antara agama dan budaya, serta keinginan politik yang satu suara dari seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan.

"Kita memiliki dunia seperti dunia indonesia dan kita kehendaki untuk meneruskan perjuangan dari nenek moyang kita seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit untuk meningkatkan kualitas kehidupan atau peradaban," katanya.

Dia menuturkan masyarakat Indonesia masing-masing memiliki budaya dan perilaku sendiri yang sangat pluralistik tapi dapat diikat menjadi satu kesatuan oleh bahasa.

Dia mengatakan dengan bahasa Indonesia, masyarakat majemuk Indonesia dapat saling berkomunikasi dan menulis berbagai tulisan seperti artikel tentang politik, ilmu pengetahuan, rekonstruksi pesawat terbang dan kedokteran.

"Bahasa itu yang memungkinkan kita walaupun pluralistik bisa memberikan informasi dan menerima informasi," ujarnya.

Dia menuturkan akan berusaha menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo di suatu kesempatan untuk menjadikan Sutan Muhammad Zain sebagai sosok pahlawan nasional yang telah berjasa bagi bangsa Indonesia.

"Beliau ini yang memberikan batu-batu (dasar) supaya kita bisa berkembang," tuturnya. 

Ketika Jepang menjajah di bumi Indonesia, Sutan Muhammad Zain mulai menulis buku tentang gramatika bahasa Melayu. Buku inilah yang menjadi dasar gramtika bahasa Indonesia yaitu buku "Djalan Bahasa Indonesia" dan "Kamus Modern Bahasa Indonesia". Kedua buku tersebut hanya sebagian kecil dari karya Sutan Muhammad Zain.

Setelah selesai menjadi Dekan di Universitas Nasional pada 1956, Sutan Muhammad Zain menyusul anak sulungnya Zairin Zain di Jerman. Di tempat itu, dia leluasa melakukan penelitian tentang Sriwijaya dengan rinci.

Buku "Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatera Era Klasik" menampilkan pendapat bahwa Sriwijaya pernah mengalahkan dan menguasai Semenanjung Malaysia, Thailand, Filipina, Sailan dan Jawa.

Wati Zain yang adalah cucu dari Sutan Muhammad Zain memandang kakeknya itu sebagai sosok teladan tiada henti belajar dan mencintai pengetahuan sepanjang hayat. 

"Beliau banyak menulis dan menerbitkan buku khususnya tentang Bahasa Indonesia," ujarnya.

Dia berharap buku "Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatera Era Klasik" dapat menjadi bahan informasi untuk meneliti dan menggali lebih dalam lagi terkait Kerajaan Sriwijaya di masa lalu.

"Harapan kami agar kedua karya ini ("Kenangan Peralihan Masa" dan "Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatera Era Klasik") dapat berguna bagi pelajar, mahasiswa, dan pihak terkait lainnya," tuturnya. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -