logo

Danau Toba Tercemar, PT AN, PT STP dan Pemerintah Digugat

Tim Litigasi YPDT atau penggugat dalam gugatannya menyebutkan bahwa pencemaran Danau Toba sudah di atas rasional akibat pelet (makanan ikan) yang ditebar sebanyak 240 kilogram (kg) per hari.

JAKARTA  (Suara Karya): Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) menggugat perusahaan yang diduga sebagai pelaku pencemaran Danau Toba yakni PT Aquafarm Nusantara (AN), PT Suri Tani Pemuka (STP) dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebesar  Rp 905.668.000.000.000,- atau Rp 905,6 triliun di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Tim Litigasi YPDT atau penggugat yang terdiri dari Robert Paruhum Siahaan, Deka Saputra Saragih, FX Denny Satria Aliandu, Antonius Triyogo Whisnu G  dan Ignatius Yoga Adinugroho dalam gugatannya menyebutkan  bahwa pencemaran Danau Toba sudah di atas rasional akibat pelet (makanan ikan) yang ditebar ke Danau Toba sebanyak 240 kilogram (kg) per hari. Pasalnya, perusahaan yang membuat keramba itu adalah perusahaan dari Swiss yang mana di negaranya sendiri oleh pemerintahnya tidak memperbolehkan satu butir peletpun jatuh ke danau.

Menurut Robert Paruhum Siahaan, dirinya sudah dari Swiss, di sana tidak boleh pelet masuk ke danau satu butir sekalipun. Sementara di Danau Toba setiap hari ditaburkan 240 kilogram pelet. Padahal yang mampu dimakan ikan hanya sekitar 80 persen dan yang 20 persennya lagi akan menjadi limbah perusak Danau Toba. Atas dasar itu, dua perusahaan besar yang hingga saat ini masih melakukan kegiatan perikanan dengan cara membuat keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba dituntut untuk memulihkan air tawar  Danau Toba dan perusahaan tersebut menghentikan kegiatannya.

Sidang gugatan tersebut sudah digelar sebelumnya dengan dipimpin  hakim Budi Hertantiyo. Namun persidangan masih sebatas melakukan pendataan administrasi  baik penggugat maupun tergugat. Selanjutnya sidang ditunda selama satu bulan kedepan karena sebagian  tergugat tidak hadir.

Robert menyebutkan, Gubernur Sumatra Utara Tengku Erry Nurani sendiri pada tahun 2016 menyebutkan, dari  250 ton pelet yang dimasukan ke dalam Danau Toba  hampir 20 persennya tidak  dimakan ikan, dan mengendap  ke dalam Danau Toba yang mengakibatkan air Danau Toba jadi tercemar. Laporan Status Lingkungan Hidup daerah propinsi Sumatra Utara tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Kabupaten Simalungun juga menyatakan, bahwa air di Danau Toba terlihat bersih,  hal ini sesuai dengan pemantauan di daerah danau Toba di 22 titik sampling.

"Hasilnya, mutu di 18 titik antara lain di Ajibata, Onan Runggu, Sigaul dan lainnya airnya sudah tercemar," kata Robert di PN Jakarta Pusat, Kamis..

YPDT,  melalui PT. Sucofindo  (persero) telah melakukan pengambilan data, pengolahan, dan analisis terhadap kualitas air Danau Toba pada 11 titik, hasilnya air di Danau Toba saat ini sudah tercemar dan bukan lagi air kelas satu.

Gubernur Sumatra Utara melalui suratnya No: 188.44/209/KPTS/2017 dalam salah satu pertimbangannya mengatakan: "Adanya Penurunan Kualitas Air Danau Toba yang terus terjadi dari tahun ke tahun yang ditunjukan oleh perubahan status mutu  air, dari "baik" pada tahun 1995 menjadi "Cemar Berat" pada tahun 2016. ***

Wilmar Pasaribu
Editor :