logo

Penyidik Jampidsus Kejagung Usut Intensif Kasus Pembobolan Bank Mandiri Rp 1,4 Triliun

Kasus pembobolan Bank Mandiri ini bermula pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TAB/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung.

JAKARTA  (Suara Karya): Sejumlah saksi terus dipanggil dan diperiksa penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung guna membongkar dugaan pembobolan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Cabang Bandung oleh PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) sebesar Rp 1,4 triliun.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Muhammad Rum di Jakarta, Kamis. "Penyidik telah memeriksa 11 saksi," katanya.

Saksi yang diperiksa itu di antaranya Deru Widyarto selaku Wholesale Credit Risk Head PT Bank Mandiri Cabang Bandung dan Ferisa Kawun, Senior Credit Risk Manager PT Bank Mandiri Cabang Bandung. Penyidik Jampidsus Kejagung hingga kini belum menetapkan tersangka dalam kasus pembobolan Bank Mandiri Cabang Bandung tersebut.  

"Penyidikan ini dimaksudkan untuk membuat terang sebuah kasus dugaan korupsi. Penyidik masih mengumpulkan bukti-buktinya, mungkin juga masih memanggil dan memeriksa saksi lagi," jelasnya. Saksi menyatakan restrukturisasi kredit macet PT Tirta Amarta Bottling mengalami kolektibilitas V sejak 21 Agustus 2016.

Kasus pembobolan Bank Mandiri ini bermula pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TAB/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung. Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp 880,6 miliar, perpanjangan dan tambahan plafon LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafon LC menjadi Rp 50 miliar, serta fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit ternyata terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang sebenarnya.  Berdasarkan nota analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 diketahui seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan. Perusahaan itu akhirnya bisa memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada 2015 sebesar Rp 1,17 triliun.

Selain itu, debitur PT TAB juga menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp73 miliar. Uang itu semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan KI dan KMK, tetapi justru dipergunakan untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit. "Akibatnya telah merugikan keuangan negara Rp 1,4 triliun yang terdiri dari pokok, bunga dan denda," kata Rum.

Jaksa Agung M Prasetyo sebelumnya meminta tim penyidik bekerja cermat dan penuh tanggung jawab  karena menyangkut kerugian negara yang sangat  besar. “Ini menyangkut dugaan kerigian negara besar.  Jadi,  tidak boleh gegabah, ” kata Prasetyo.

Maksudnya saat perkara maju ke pengadilan, hasil penyidikan jangan sampai tidak maksimal.  “Jangan sampai perkara maju, hasilnya tidak maksinal,.” katanya mengingatkan.

Jampidsus Arminsyah menambahkan, dugaan kerugian negara tersebut sebesar kredit yang dikucurkan oleh bank pelat merah tersebut.  “Diduga uang kredit itu dipinjamkan ke pihak ketiga, ” ungkap Armin.

Saat ini telah digelar pula kasus pembobolan Bank Mandiri di PN Jakarta Utara dengan terdakwa bernama Dion, salah satu pimpinan Bank Mandiri Kelapa Gading Jakarta Utara. Dion dengan pimpinan lainnya mengucurkan kredit Rp 250 miliar. Namun agunan kredit itu sebagian di antaranya palsu hingga Bank Mandiri kembali digerogoti. ***

Wilmar Pasaribu
Editor :