logo

Kerajinan Onix Khas Tulungagung Lebih Diminati Asing

Kerajinan Onix Khas Tulungagung Lebih Diminati Asing

Foto : Istimewa
Para pengrajin onix tak tahu persis, mengapa karya mereka semakin diabaikan pasar dalam negeri

SURABAYA (Suara Karya): Peningkatan jumlah wisatawan ke Tulungagung tak banyak mengatrol angka penjualan cinderamata berbahan batu onix. Sebaliknya, para pengrajin dan pengusaha batu onix Tulungagung hanya mengandalkan dua negara asing yang belakangan masih menyukai wastafel onix.

Menurut owner Mutiara Onix, Supriyono, tempat usahanya di Jalan Raya Popoh Tulungagung, sangat strategis karena berada di jalur utama menuju obyek wisata andalan Pantai Popoh dan Pantai Gemah. "Omzet penjualan cinderamata khas onyx dan marmer untuk pasar turis lokal, sudah anjlog sejak 15 tahun terakhir," ujarnya, Kamis (12/10).

Para pengrajin tak tahu persis, mengapa karya mereka semakin diabaikan para turis dalam negeri. Padahal dibanding produk sejenis dari luar negeri, karya mereka tergolong jauh lebih murah.

Masa kejayaan kerajinan berbahan batu onix dan marmer Tulungagung, kata dia, terjadi sekitar 20 tahun silam. Tingginya angka penjualan waktu itu, mendorong pertumbuhan jumlah pengusaha dan pengrajin batu onix. Bahkan saat ini di Kecamatan Campurdarat saja, kata Supriyono, sudah ada ratusan pengusaha sejenis.

Beruntung, usaha mereka terselamatkan oleh banyaknya pembeli dari Jamaika dan Polandia. Supriyono sendiri mengaku rutin mengirim 2-3 kontainer wastafel onix ke dua negara tersebut. Harga wastafel batu alam yang Rp 350 - 550 ribu perbuah itu, dianggap murah bagi rakyat kedua negara tersebut.

Meski demikian Supriyono khawatir, pasar yang tersisa itu bakal ikut diserobot pemain usaha serupa dari negara lain. "Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya kalau permintaan dari kedua negara itu berkurang," keluhnya.

Pihaknya yang menghidupi 50 tenaga kerja lepas itu berharap, pemerintah ikut turun tangan membantu mengatasi lesunya penjualan kerajinan batu onix. Apalagi belakangan pasar mereka juga sudah mulai diserbu produk asal Italia dan Turki.

Pada bagian lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Jarianto berharap keberadaan pariwisata di Tulungagung bisa mengatrol kesejahteraan warga setempat. "Mereka termasuk para pengrajin, harus kreatif dan terus berinovasi agar selalu bisa memenuhi keinginan para turis," ujarnya.***

Andira
email: andirask@gmail.com
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -