logo

Daya Saing Batik

Daya Saing Batik

Persepsian tentang kualitas dan daya saing batik secara tidak langsung juga terkait dengan komitmen pemerintah menetapkan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi  

"Beli batiknya, kembangkan industrinya" seolah menjadi slogan yang tepat untuk dapat menggambarkan ketatnya industri batik nasional. Argumen yang mendasari karena saat ini semakin banyak pelaku industri batik tradisional yang kolaps karena kalah bersaing dengan batik made in Cina yang lebih variatif dan harganya lebih murah. Artinya, fakta ini tidak bisa terlepas dari daya saing batik dalam konteks persaingan global. Betapa tidak, kini kompetisi di industri batik nasional cenderung terus meningkat, bukan hanya dalam bentuk product form tapi juga generic competition. Oleh karena itu, pilihan dan tuntutan inovasi menjadi mutlak agar tetap survive dan eksis mempertahankan pasar. Selain itu, pelaku usaha batik juga harus cermat melihat perubahan selera pasar dan juga keperilakuan konsumen yang terus berkembang sesuai dengan perubahan gaya hidup dan perbaikan pendapatan. Hal ini menegaskan pelajaran dari kasus Sevel, Ramayana, Matahari dan Nyonya Meneer harus dicermati sebagai suatu tantangan agar ke depan industri batik tetap bisa bersaing dan eksis agar tidak punah, utamanya batik tradisional.

Pemahaman tentang daya saing batik menjadi sangat relevan, terutama dikaitkan dengan peringkat daya saing sesuai rilis dari World Economic Forum atau WEF dalam Global Competitiveness Index 2017-2018 yaitu dari 41 naik urutan 36 dari 137 negara. Padahal daya saing menjadi tuntutan mutlak untuk bisa memenangkan persaingan di era global, sementara di sisi lain tidak bisa lagi berharap dengan keunggulan komparatif, sedangkan tuntutan terhadap keunggulan kompetitif semakin mendesak. Oleh karena itu daya saing batik tradisional pada khususnya dan juga batik nasional pada umumnya harus dapat ditingkatkan agar tidak kalah bersaing, terutama dari produk batik made in Cina yang dalam 5 tahun terakhir mengancam produk batik domestik.

Kompetisi

Persepsian tentang kualitas dan daya saing batik secara tidak langsung juga terkait dengan komitmen pemerintah menetapkan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober. Acuan ini tidak lepas dari harapan agar persepsian terhadap batik, tidak hanya bagi adibusana tapi juga kerajinan lain berbasis batik bisa lebih dikenal yang kemudian berharap agar konsumsi terhadap batik bisa terus meningkat, termasuk juga esensinya terhadap geliat ekonomi rakyat berbasis batik di berbagai daerah. Argumen yang mendasari karena kini batik masih diyakini sebagai industri rakyat yang bersifat padat karya sehingga geliat dari sektor batik mampu menyerap tenaga kerja dan perbaikan taraf hidup masyarakat.

Acuan terhadap daya saing batik pada dasarnya tidak terlepas dari fakta kompetisi internal dan eksternal. Pemahaman tentang eksternal tentu mengacu kepada pesaing luar termasuk juga pemahaman tentang product form competition dan generic competition. Hal ini menegaskan bahwa identifikasi persoalan yang mereduksi daya saing batik harus dicermati agar tidak kalah bersaing dengan asing dan bertahan sehingga eksistensinya masih memberikan harapan terhadap penyerapan tenaga kerja dan aspek perbaikan taraf hidup. Terkait urgensi pengembangan daya saing batik, maka ada beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu:

Pertama: aspek teknologi produksi. Tidak bisa disangkal bahwa batik bisa dikategorikan menjadi batik tradisional yang bersifat manual dan batik modern yang bersifat printing. Batik tradisional cenderung memiliki citra klasik yang unik dengan pendekatan proses produksi manual. Sebaliknya, batik modern dengan proses produksi printing cenderung lebih beragam dengan harga yang sangat variatif. Terkait hal ini, batik modern printing cenderung bersaing dengan produk asing, utamanya dari made in Cina yang di 5 tahun terakhir cenderung terus berkembang dengan corak yang variatif dan harga kompetitif. Oleh karena itu, beralasan jika persaingan di bidang batik printing sangat kompetitif jika dibanding dengan batik tradisional yang mayoritas dikerjakan manual sehingga harga relatif mahal dan memiliki segmentasi pasar yang terbatas atau cenderung eksklusif.

Kedua: lama proses produksi. Fakta membuktikan bahwa proses produksi batik yang tradisional karena menggunakan teknologi manual maka proses produksinya cenderung lebih lama dibanding batik printing sementara di sisi lain proses produksi batik printing juga terkendala oleh perubahan cuaca dalam pemanfaatan pengeringan. Lama proses produksi ini rentan terhadap ganggungan cuaca dan karenanya beralasan jika kendala dari lama proses produksi bisa menghambat pasokan dan tentu ini rentan terhadap daya saing batik ke depan. Artinya, perlu ada inovasi yang bisa memperpendek lama proses produksi tanpa mengurangi kualitasnya.

Ketiga: kualitas produk yang sederhana. Persaingan industri batik yang semakin ketat saat ini memungkinkan dua pilihan yaitu melakukan inovasi atau mati karena kalah bersaing. Oleh karena itu, perlu ada komitmen terhadap pengembangan kualitas produk agar semakin menarik pasar dan utamanya disukai kelompok generasi muda yang saat ini menjadi pasar terbesar terhadap industri konveksi secara umum. Persoalan ketiga ini juga rentan terhadap aspek keempat yaitu fluktuasi bahan baku dan supply-nya. Padahal jaminan terhadap pasokan bahan baku menjadi komponen penting untuk memacu daya saing produk batik. Fluktuasi bahan baku juga rentan terhadap fluktuasi harga dan juga jaminan pasokan sehingga mata rantai ini sangat rentan terhadap konsistensi produksi.

Nilai sinergi dari aspek ketiga dan keempat yaitu aspek kelima terkait dengan ancaman pembajakan desain dan model. Tidak bisa dipungkiri bahwa hak cipta desain batik kini menjadi sangat penting karena hak cipta itu sendiri pada dasarnya adalah daya saing bagi perkembangan industri batik ke depan. Tanpa hak cipta dari desain yang menarik dan eksklusif maka batik tidak ada bedanya dengan industri konveksi secara umum dan bisa dengan mudah dibajak. Jika hal ini terjadi maka ancaman matinya industri batik akan terjadi dan karenanya Pemkot/Pemkab pada umumnya dan juga komunitas para pengjrajin batik di berbagai daerah perlu bersinergi mereduksi pembajakan hak cipta dan desain batik karena desain itu sendiri merupakan ciri khas dan karakteristik produk yang membedakan keunikan batik tiap daerah dibanding batik dari daerah - negara lain

Harapan kampanye batik yaitu meningkatkan cinta produk dalam negeri dan batik bisa menjadi sarana memulainya. Penetapan Hari Batik Nasional berdasar Keppres no. 33 Tahun 2009 juga merupakan upaya memacu industri batik. Artinya, batik nasional tidak hanya dilindungi UU, tetapi juga kampanye nasional melalui Hari Batik Nasional yang didukung komitmen Unesco dan karenanya beralasan jika daya saing batik harus dipacu agar tidak mati tergerus jaman. Oleh karena itu, slogan "beli beli batiknya, kembangkan industrinya" seolah menjadi slogan yang tepat untuk dapat menggambarkan ketatnya industri batik nasional. ***

  • Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :