logo

Gelombang Eksodus Warga Rohingya Kembali Terjadi

Gelombang Eksodus Warga Rohingya Kembali Terjadi

Warga etnis Rohingya eksodus meninggalkan .negerinya menuju perbatasan Bangladesh.
.Ribuan orang etnis muslim Rohingya kembali eksodus ke Bangladesh melewati sungai Naf, Minggu (810) dan Senin (9/10).

BANGLADESH (Suara Karya) : Kedatangan pengungsi baru secara bergelombang untuk kedua kalinya sejak 25 Agustus lalu sempat membuat kewalahan sejumlah lembaga kemanusiaan yang berada di wilayah tepian sungai naff tersebut.

Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sudah sejak awal bulan September lalu berada di garis terdepan pengungsian pun juga dibuat kewalahan.

"Kami berupaya menyiapkan tenda-tenda baru buat menampung mereka" ujar vice president ACT, Iqbal Setyarso di Bangladesh, melalui siaran press Selasa (10/10).

Lebih lanjut Iqbal menambahkan, awalnya ACT menganggap gelombang pengungsi sudah terhenti sehingga bisa fokus pada recovery.

Namun kenyataannya sejak Minggu gelombang ribuan pengungsi baru kembali berdatangan. Pihaknya diakui masih kekurangan stok tenda-tenda.

"Insya Allah segera kita datangkan kembali agar mereka bisa ada tempat berteduh," imbuhnya.

Seiring langkah emergency yg dilakukan pasca kedatangan para pengungsi baru, ACT tetap melanjutkan rencana pembangunan 2000 shelter dan sedang persiapan menyambut kedatangan kapal kemanusiaan yang membawa bantuan masyarakat Indonesia berupa 2000 ton beras di pelabuhan chittagong, Bangladesh.

"Insya Allah tanggal 12 Oktober 80 kontainer sudah dibongkar muat dari kapal samudra Indonesia yang membawa bantuan tersebut," ucap Iqbal.

Selain bantuan berupa bahan pangan dan program shelter, lanjut Iqbal pihaknya juga melakukan pemeriksaan medis dan pengobatan terhadap para pengungsi.

"Kita ada 6 tenaga dokter dan dua para medis. Mereka bahu membahu siang malam membantu para pengungsi," ujar mantan wartawan tersebut.

Pihaknya juga telah menyiapkan 75 tenaga pengajar untuk ribuan anak-anak warga etnis Rohingya. "Jangan sampai kekejaman dan kekerasan ini membuat mereka tak bisa bersekolah lagi, hilang pendidikan dan harapan masa depannya. Kasihan," tandasnya.

Melalui sekolah ini, tambah Iqbal, pihaknya juga melakukan upaya trauma healing untuk mengembalikan keceriaan anak-anak.

"Alhamdulillah, program-program ACT mendapat sambutan hangat dari pengungsi," katanya.

Yon Parjiyono
Editor : Yon Parjiyono