logo

Konferensi Dunia ISGF, Mantan Pandu Lansia Dunia

Konferensi Dunia ISGF, Mantan Pandu  Lansia  Dunia

Konferensi Dunia tahun 2017 ini bisa menjadi suatu Konferensi Dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Keberhasilan kompetisi memperebutkan tempat Konferensi untuk tahun 2017 ini disebabkan tawaran tempat Konferensi Pulau Bali yang sangat terkenal.

Oleh: Haryono Suyono

Alhamdulillah wakil-wakil dari 66 negara di dunia dengan 416 peserta telah terdaftar pada Konferensi International Scouts and Guides Fellowship (ISGF) ditambah sekitar 160 anggota dan simpatisan Hipprada dari seluruh Indonesia akan hadir di Bali untuk suatu pertemuan ISGF Dunia yang ke 28, selama satu minggu di Bali. Pertemuan akbar ini adalah hasil keputusan Konperensi ISGF Dunia ke 27 yang digelar pada tahun 2014 di Sydney, Australia. Pada Konferensi di Sydney itu, utusan Indonesia memenangkan lomba para peminat yang ingin menjadi tuan rumah Konferensi Dunia yang sangat bergengsi tersebut. Kemenangan itu menjadikan Konferensi Dunia tahun 2017 ini bisa menjadi suatu Konferensi Dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Keberhasilan kompetisi memperebutkan tempat Konferensi untuk tahun 2017 ini disebabkan tawaran tempat Konferensi Pulau Bali yang sangat terkenal, serta dukungan Gubernur dan Pemerintah Pusat pada waktu itu.

Gubernur Bali membuat suatu pernyataan yang sangat simpatik mengundang para peserta dari seluruh dunia untuk menikmati keindahan Pulau Dewata dan jaminan bahwa mereka pasti tidak akan kecewa karena segala sesuatu di Bali memang penuh pesona dan tersedia untuk dinikmati secara simpatik. Pemerintah Pusat yang diwakili oleh Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), pada waktu itu juga dengan sangat simpatik menyambut para delegasi yang hadir pada Konferensi ke 27 di Sydney, untuk hadir di Bali dan tinggal lebih lama di Bali menikmati pemandangan. kebudayaan dan keindahan alam yang hampir tidak ada tandingannya. Sementara itu, utusan Indonesia yang gesit dengan segala kemampuan lobinya telah bekerja keras meyakinkan para utusan dari seluruh dunia bahwa Bali akan menjadi kenangan yang indah karena di Bali hampir semua impian dapat dilihat dan diwujudkan dengan baik. Keindahan pemandangan di Bali seakan seperti lukisan karena setiap sudut di Pulau Bali adalah bagian indah dari lukisan yang tidak ada cacatnya. Pilihan makanan tersedia melimpah dengan segala rasa yang nikmat, tarian yang penuh dinamika akan merangsang seseorang seakan berada di surga dan dihibur oleh para bidadari yang ramah menawan karena memiliki darah dan pesona Bali yang tidak ada tandingannya di seluruh dunia.

Terpilihnya Bali sebagai ajang Konferensi Dunia itu membuat Hipprada di Indonesia bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya agar kedatangan para Delegasi dari seluruh dunia tidak berakhir dengan kekecewaan. Alhamdulillah, dengan persiapan dan komunikasi melalui internet yang efektif, perhatian dari seluruh dunia membludak. Tidak kurang dari 416 peserta yang berasal dari 66 negara di seluruh dunia, jauh melebihi peserta pada Konferensi sebelumnya, telah terdaftar dan membayar uang hotel selama satu minggu atau lebih akan hadir di Bali. Biasanya dalam kenyataannya peserta itu melebihi yang telah mendaftar karena ada keputusan terakhir yang membuat peserta tidak sempat mendaftar terlebih dahulu. Panitia telah menyiapkan cadangan kamar hotel yang memadai.

Untuk program Konferensi Dunia kali ini Panitia telah berusaha keras mengembangkan negosiasi dengan Panitia Pusat yang biasanya sangat ketat ingin menyelenggarakan pertemuan dunia itu penuh rapat dalam ruangan dengan segala agenda yang berlangsung seperti konferensi para politisi yang membahas prosedur dan tata kelola sangat “njlimet” agar segala sesuatu memenuhi syarat dan standar profesional sebagai organisasi dunia yang kredibel. Padahal,  banyak peserta yang sebenarnya ingin mendengar dan bertukar pengalaman sesama peserta dari negara lain untuk bahan pengembangan organisasi di negaranya. Atau ingin melihat pengalaman lapangan di negara penyelenggara pertemuan agar bisa ditiru atau di copy untuk kegiatan organisasi serupa di negaranya.

Kesempatan itu sangat jarang terjadi dan akan ditawarkan oleh Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan yang ke 28 ini sebagai bahan perbandingan dan oleh-oleh yang relatif berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Para peserta Konferensi Dunia kali ini akan diajak meninjau lapangan dan melakukan kegiatan seakan seperti turis biasa sehingga bisa mengadakan interaksi langsung dengan penduduk yang bekerja sama dengan Hipprada dan Pramuka setempat mengembangkan berbagai kegiatan yang banyak gunanya untuk kesejahteraan keluarganya. Mereka ada yang mengembangkan Posdaya dengan kegiatan PAUD untuk anak balita, ada kegiatan Kebun Bergizi, ada kegiatan usaha ekonomi seperti membuat Patung, lukisan dan apa saja yang bisa dijual kepada para turis yang datang setiap saat ke daerahnya untuk menikmati liburan atau menambah keindahan hidupnya. Daerah-daerah yang ditinjau para peserta ini adalah daerah yang kemudian menjadi idola dari para turis yang sesungguhnya aslinya adalah penduduk kampung biasa yang maju karena kreativitas manusia yang hidup gotong royong saling bantu membantu sesamanya, suatu prinsip kebersamaan yang diajarkan oleh Bapak Pandu Lord Baden Powell.

Kunjungan lapangan di Banjar Bali itu diharapkan akan menjadi pemicu perubahan model pertemuan para anggota ISGF di kemudian hari untuk lebih menghargai kegiatan dan innovasi yang dikembangkan oleh negara anggota dan menjadikan anggota lokal lebih bangga terhadap gagasan pengembangan langkah-langkah mengajak para senior tetap mempertajam dan menunjukkan kepada generasi muda bagaimana membumikan prinsip-prinsip kepanduan dalam kehidupan nyata antara sesama anggota masyarakat dan bagaimana menghargai ciptaan Tuhan alam semesta dan lingkungannya yang harus dipelihara dengan kasih sayang dan dinamik.

Sebagai bagian dari anak keturunan idealisme Baden Powell, dalam keadaan makin lansia, anggota ISGF, atau Hipprada, dalam lingkungan Tanah Air dan bangsa Indonesia, seyogyanya tidak saja mengembangkan program untuk kepentingan sendiri, atau untuk kepentingan anggota Pandu atau Pramuka, tetapi mengajak semua pemuda harapan bangsa menganut makin percaya pada diri sendiri, cinta sesama temannya atau masyarakatnya, lingkungan sekitar dan secara dinamis membuat lingkungan itu menjadi aset bangsa yang diwariskan dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang kepada generasi mendatang dengan harapan memberi manfaat untuk kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Insya Allah.

Prof Dr Haryono Suyono, Ketua Umum Hipprada

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH