logo

Pengamat: Novanto Sedang Membuktikan Teori Psikoanalisis

Pengamat: Novanto Sedang Membuktikan Teori Psikoanalisis

Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Dr.Adi Suparto . (Foto: Aji/Suara Karya)
Dengan segala otoritasnya rupanya Novanto tengah menguji teori Karen Horney.

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Dr.Adi Suparto menilai Ketua Umum Golkar Setya Novanto sedang membuktikan teori psikoanalisis Karen Horney.. Hal tersebut dikatakan Adi menyusul sejumlah manuver yang dilakukan oleh Ketua DPR tersebut dalam menyikapi dinamika yang berkembang belakangan ini.

Menurut Adi, dengan segala manuvernya, politisi yang sering disapa “Papa” ini tergolong licin dan piawai dalam merasionalisasi berbagai kasus yang menjerat dirinya.

“Bahkan masyarakat tidak lupa dengan kasus Papa minta saham yang berujung lengsernya Novanto dari ketua DPR. meskipun kemudian kembali menjabat. Dan kasus yang paling hangat adalah mega proyek KTP-e yang telah mennyeret sejumlah pejabat. Bahkan Jaksa KPK telah menyebutkan sejumlah anggota DPR diduga ikut menikmati uang haram mega kasus e-KTP itu,” ungkap Adi kepada Suara Karya (4/10).

Namun, kata Adi, dengan segala otoritasnya rupanya Novanto tengah menguji teori Karen Horney.

“Ada tiga kemungkinan yang dilakukan ketika seseorang itu menghadapi konflik, yaitu mendekati orang lain (moving forward people) melawan orang lain (against people) dan menjauhi orang lain (moving away from people) atau membuang orang atau memecat orang? Atau ini merupakan strategi pengamanan menjelang tahun politik 2018,” tambah Adi.

Menurut Adi teori psikoanalisis Karen Homey dari ketiga poin itu, benar-benar di uji dan dijalankan oleh Novanto, seperti, agar tidak mendapat perlawanan dari rivalnya dia berusaha merangkul partai penguasa. Kemudian, untuk menjauhi hiruk pikuk dan dinamika yang berkembang di publik Novanto pun berhalangan untuk sakit dan menjauh dari sorotan media. Dan ekstrimnya, bagi pihak-pihak yang dianggap membangkang tak segan ketua Golkar itu memecat bawahannya.

Lanjut Adi, dalam empat bulan terakhir ini ramai dibicarakan dan keinginan sebagian pengurus Golkar agar Setya Novanto mundur dari kursi ketua umum. Pada bulan April dalam sebuah diskusi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (24/4) lalu Ketua Bidang Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Golkar Yorrys Raweyai menyebut bahwa Ketua Umum Golkar Setya Novanto hampir pasti ditetapkan jadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus korupsi pengadaan e-KTP.

Yorrys menganalisis bahwa elektabilitas partai Golkar terus merosot dan salah satu faktor penyebabnya karena Setyo Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka. Setelah itu Yorrys memang sering melontarkan kritik terhadap Setnov terkait dengan semakin menurunnya tingkat elektabilitas partai Golkar.

Naah pada saat ini, lanjut Adi, ujaran yang disampikan oleh Yarrys menuai hasil dan dia didepak dari kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Partai. Posisi Yorrys sebagai Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan digantikan Letnan Jenderal (Purnawirawan) Eko Wiratmoko. Alasan didepaknya Yorrys karena dia telah melanggar aturan di luar batas toleransi partai.

“Menurut saya, pernyataan Yorrys sebagai kader Golkar jangan dianggap enteng apalagi dengan emosional, mengingat bahwa masyarakat atau konstituen itu sudah sangat peka dan cerdas dalam menentukan arah kebijakan partai,” kata Adi.

Lebih lanjut Adi mengatakan bahwa partai Golkar sebagai salah satu partai politik memiliki peran yang sangat menentukan bagi masa depan demokrasi, salah satu diantaranya adalah melahirkan calon – calon pemimpin bangsa ini. Jika partai politik gagal memilih pemimpin bagi bangsa, maka demokrasi yang tujuan untuk mensejahterakan rakyat juga akan terancam gagal.

“Kita lihat sekarang bahwa Ketua Partai Golkar Setyo Nevanto sempat diberikan status sebagai tersangka oleh KPK dengan 200 barang bukti walau akhirnya Pengadilan menerima gugatan praperadilannya. Rakyat-pun menyaksikan bahwa banyak kalangan tidak puas dengan putusan pengadilan tersebut terlebih KPK yang berencana akan menerbitkan sprindik lagi dengan kasus yang serupa,” tandasnya. 

Muhajir
Wartawan Suara Karya
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -