logo

Menjual Pariwisata Di Era Otda

Menjual Pariwisata Di Era Otda

Urgensi terhadap pengembangan sektor kepariwisataan maka Indonesia secara umum dan juga semua daerah tujuan wisata di daerah harus secara optimal meraih peluang ini terutama dikaitkan dengan dampak makro bisnis sektor pariwisata.

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pariwisata merupakan salah satu potensi besar yang harus dimanfaatkan. Pemahaman ini secara tidak langsung selaras dengan komitmen era otda yang memberikan keleluasaan bagi daerah mengembangkan semua potensi yang ada, termasuk tentunya kepariwisataan yang ada di daerah. Di satu sisi, menjual kepariwisataan tidak bisa hanya mengacu daya tarik daerah tujuan wisata saja, tetapi juga harus memperhatikan semua komponen yang terlibat, baik secara langsung atau tidak langsung. Di sisi lain, era global memberikan keleluasaan bagi semua daerah tujuan wisata untuk mengemas dan menjual dirinya demi mendulang devisa, apalagi trend kepariwisataan terus meningkat. Data dari BPS bahwa jumlah kunjungan wisman pada Januari – Mei 2017 mencapai 5,36 juta atau naik 20,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2016 yaitu 4,43 juta kunjungan.

Urgensi terhadap pengembangan sektor kepariwisataan maka Indonesia secara umum dan juga semua daerah tujuan wisata di daerah harus secara optimal meraih peluang ini terutama dikaitkan dengan dampak makro bisnis sektor pariwisata. Bagaimanapun juga, sektor pariwisata bersifat multi dimensi, termasuk juga kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja dan peningkatkan pendapatan masyarakat yang berada di sekitar daerah tujuan wisata. Hal ini secara tidak langsung menegaskan sektor pariwisata mempunyai peranan yang cukup penting terutama sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar. Pengembangan sektor pariwisata memerlukan jaminan kondisi ekonomi makro yang stabil, iklim usaha yang kondusif, jaminan keamanan, infrastruktur yang memadai, serta dukungan multisektor.

Daya tarik wisata di daerah pada era otda secara tidak langsung memberikan gambaran bahwa tidak ada lagi keunggulan komparatif terkait destinasi tujuan wisata karena kini semua daya tarik wisata pada dasarnya bisa diciptakan dan sekaligus memberikan nilai keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, pada dasarnya semua daerah mempunyai nilai potensi yang sangat besar di bidang kepariwisataan, tentu hal ini juga butuh keseriusan untuk pengembangannnya. Paling tidak, keberagaman wisata berbasis sejarah budaya, wisata belanja, wisata kuliner dan juga wisata alam merupakan karakteristik umum di berbagai daerah yang bisa dikemas dan dijual untuk meraup sebanyak mungkin profit dari sektor kepariwisataan. Hal ini secara tidak langsung menegaskan semua potensi di era otda harus dimanfaatkan, apalagi pemekaran daerah telah dilakukan pemerintah.

Potensi besar dari kepariwisataan di era otda dan era global maka potensi dan daya tarik wisata di Indonesia harus dipetakan ulang. Paling tidak ada sejumlah argumen yang juga perlu dicermati yaitu : (1)  turunnya citra pariwisata Indonesia yang disebabkan berbagai faktor seperti terorisme, wabah flu burung, bencana gempa bumi, tsunami, dan korupsi, (2) tidak optimalnya dukungan sektor lain terutama dalam mempersiapkan destinasi pariwisata berdaya saing tinggi, (3) belum adanya dukungan optimal dari pemerintah kota/kabupaten termasuk misal munculnya berbagai perda yang menghambat, (4) belum meratanya aspek pertumbuhan pariwisata dan juga terjadinya kesenjangan di Kawasan Barat dan Timur, (5) kurangnya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi intralembaga dan interlembaga dalam promosi pariwisata, maupun dalam perencanaan antara pusat - daerah (6) belum optimalnya kerja sama pelaku ekonomi, sosial, budaya dengan pelaku pariwisata dan masyarakat, dan (7) terbatasnya SDM profesional di bidang pariwisata.

 Aspek Makro 

Realita tuntutan optimalisasi sumber penerimaan, terutama dari devisa sektor pariwisata, pemerintah telah mengupayakan untuk mengotimalkan pariwisata. GBHN menegaskan bahwa pengembangan sektor kepariwisataan akan diupayakan peningkatannya karena adanya sejumlah manfaat yaitu memperbesar penerimaan devisa, memperluas dan juga memeratakan aspek kesempatan usaha - lapangan kerja, memacu pembangunan daerah, memperkenalkan sejumlah potensi daerah (alam - nilai budaya), meningkatkan kualitas kebudayaan bangsa, menjaga nilai-nilai agama, dapat melestarikan alam dan lingkungan hidup, dan dapat memupuk rasa cinta tanah air.

Identifikasi amanat haluan negara ini diimplementasikan secara detail yang dituangkan dalam kebijaksanaan operasional yaitu pertama: menggencarkan promosi ekstensifikasi dan intensifikasi persatuan promosi, baik dalam atau luar negeri dengan tujuan menarik wisman sebanyak-banyaknya dan meningkatkan apresiasi wisnu atas tanah air, kedua: memperluas dan meningkatkan aksesibilitas udara, laut dan darat, terutama jalan-jalan ke daerah tujuan wisata sebagai upaya memberikan pelayanan - kenyamanan, ketiga: memantapkan mutu produk pelayanan sektor pariwisata, meningkatkan mutu terpadu dalam sajian kesenian, kebudayaan, obyek wisata, kualitas makanan dan cinderamata. 

Keempat: mengembangkan kawasan pariwisata dan juga mendorong pembentukanya, mengupayakan peran serta pemda dalam penyediaan tanah untuk kawasan pariwisata yang sesuai tata ruang, kelima: menggalakan wisata bahari serta wisata alam dengan meningkatkan kesiapan daerah dalam memperkenalkan obyek dan daya tarik wisata, keenam: meningkatkan kemampuan SDM, dan ketujuh: membudayakan sadar wisata yang bertujuan meningkatkan kesadaran dikalangan masyarakat.  

Konsep untuk mencapai tujuan pengembangan kepariwisataan ini tertuang pada "blue print" pengembangan pariwisata yang terdiri dari tiga kebijaksanaan yaitu pertama: keunikan dan keaslian seni budaya yang terus berkesinambungan, kedua: menempatkan kepentingan masyarakat sebagai kekayaan yang paling berharga untuk lebih mendukung pengembangan pariwisata, ketiga: penetapan reformasi pariwisata yang terdiri upaya yaitu: (1) mendorong perusahaan kecil, menengah dan koperasi, (2) mendorong peran non-pemerintah bagi pengembangan pariwisata, (3) menciptakan iklim yang mendukung dan meningkatkan peran dari non-pemerintah, (4) penciptaan customer service excelent, (5) mendorong setiap orang untuk punya tanggung jawab terhadap promosi pariwisata, (6) mengembangkan aspek koordinasi antar instansi, (7) penyederhanan peraturan dan perpajakan yang mendorong pertumbuhan usaha. Oleh karena itu, tahun politik dalam pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019 harus diwaspadai sebab bisa menjadi ancaman terhadap daya tarik wisata, terutama jika muncul konflik. ***

  • Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :