logo

Test Event Squash Sarana Pembinaan Atlet Muda

Test Event Squash Sarana Pembinaan Atlet Muda

Test event squash ini dapat juga dijadikan ajang pembinaan untuk atlet junior. Kesempatan internasional multi-event seperti ini masih sedikit untuk atlet junior
13 September 2017 13:11 WIB
Penulis : Azhari Nasution

BANDUNG (Suara Karya): Ada misi lain yang dibidik Panitia Pelaksana Asian Games 2018. (INASGOC) lewat penyelenggaraan test event "Road to Asian Games 2018" bertajuk Indonesia Squash Junior 2017 yang berlangsung, 10-16 September 2017 di Siliwangi Squash Center, Bandung, Jawa Barat.

Ajang yang diikuti para atlet muda ini tak hanya menjadi arena uji coba pelaksanaan pertandingan dan kesiapan panita pelaksana dari PB PSI (Persatuan Squash Indonesia). Tapi lebih jauh, dengan keterbatasan kompetisi cabang squash di tanah air, baik di tingkat senior maupun junior, maka test event ini berguna untuk ajang pembinaan.

"Dari lima test event "Road to Asian Games 2018" yang digelar semua punya tujuan prestasi. Baik peningkatan tingkat kompetisi para atlet karena test eventnya berlevel Asia, maupun pembinaan karena pesertanya para atlet muda, seperti bola tangan dan saat ini squash. Paling tidak, jika atlet junior diberi kesempatan dengan disediakan turnamen, mereka bisa menunjukkan prestasi," ungkap Ketua INASGOC, Erick Thohir, Selasa (12/9/2017).

Hal itu terbukti. Pemain squash muda asal Jawa Tengah, Satria Bagus Laksana yang bertanding Indonesia Squash Junior 2017 itu  lolos ke babak final tunggal putra. Di babak semifinal, Satria Bagus  mengalahkan  wakil Malaysia Muhammad Shaqil Imran dengan skor ketat 9-11 11-5 11-9 14-11, sekaligus memperlihatkan bahwa atlet Indonesia mampu menyamai atlet junior Malaysia yang memiliki peringkat lebih tinggi ketimbang atlet junior Indonesia.

“Test event squash ini dapat juga dijadikan ajang pembinaan untuk atlet junior. Kesempatan internasional multi-event seperti ini masih sedikit untuk atlet junior kami maka dengan eksposur Asia, kami ingin membagikan pengalaman kepada mereka sehingga dapat merasakan seperti senior mereka. Karena di kejuaraan daerah tidak dapat mengibarkan bendera Indonesia dan menjadikan motivasi tersendiri bagi atlet junior,” jelas Brigitta Tieneke Kijono selaku manajer kompetisi test event ini.

Satria sendiri mengaku bangga dapat ikut bertanding di ajang yang menjadi sarana uji coba menuju pesta olahraga bangsa Asia itu."Ini kesempatan berharga karena saya dapat kesempatan dan  bangga dapat membela nama Indonesia. Saya kian termotivasi dan akan berlatih lebih keras lagi agar dapat masuk ke pelatnas Asian Games yang masih setahun lagi," ucap Satria.

Di babak final (12/9) nomor tunggal putra, Satria Bagus Laksana ynag merupakan unggulan ketiga dapat mengalahkan pemain junior unggulan nomor satu Afy Luqman Bin Noor Affendy (Malaysia) dengan skor 11-8 11-8 11-0. Ketepatan bola yang baik, pergerakan yang luwes dan juga mental kesabaran dimiliki oleh Satria dan menjadikan Indonesia meraih satu medali emas. Begitu pula dengan Ilham Nurkarim dan Yaisha Putri Yasandi yang berhasil membawa pulang medali perunggu di nomor tunggal putra dan putri.

“Kami tidak menargetkan medali di ajang ini, tapi saya sangat puas melihat atlet-atlet junior kita sukses di test event ini. Tidak hanya sukses penyelenggara tetapi juga sukses prestasi dengan membawa pulang satu medali emas dan dua medali perunggu. Melihat hasil dari ajang ini, PSI berencana mengarahkan atlet-atlet muda yang berpotensi saat Asian Games 2018,” ucap Brigitta.

Begitu pula dengan Satria yang merasa sangat bangga dapat mengharumkan nama Indonesia sebagai tuan rumah test event squah ini. “Pertandingan hari ini cukup lelah tetapi Saya sangat senang dan bangga dapat mengalahkan Malaysia yang merupakan unggulan pertama. Tadi Saya berusaha untuk tidak terburu-buru menyerah dan akhirnya Saya pun dapat memenangkan medali emas untuk Indonesia,” ujar Satria.

Menurut Afy, kekalahannya di nomor tunggal hari ini karena banyak orang yang berekspetasi tinggi kepadanya sehingga membuat ia tidak dapat fokus bermain hari ini. Dan menurutnya permainan Satria hari sangat baik.

Sedangkan babak final tunggal putri, medali emas dimenangkan oleh pemain asal Malaysia Noor Ainaa Amani Binti Ampandi atas Au Yeong Wai Yhann (Singapura) dengan skor 11-7 11-4 11-9. “Saya adalah unggulan pertama di kelas junior, untuk itu banyak orang berekspetasi kepada Saya untuk mendapatkan medali emas. Dan  Saya ngat senang dapat mengalahkan pemain Singapura,” jelas Noor.  ***