logo

Norman Erikson Pasaribu Raih Anugerah Sastrawan Muda Asia Tenggara

Norman Erikson Pasaribu Raih Anugerah Sastrawan Muda Asia Tenggara

Kepala Badan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar menyerahkan anugerah Sastrawan Muda Asia Tenggara terhadap ayahanda Nor
Menurut panitia, Norman dipilih sebagai penerima penghargaan tingkat Asia Tenggara itu setelah melalui tahap penilaian yang cukup ketat dilakukan oleh sejumlah sastawan berpengaruh Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Ganjar Harimansyah, Seno Gumira Ajidarma, Agus R Sarjono serta Erlis Nur Mujiningsih.

JAKARTA (Suara Karya): Penulis muda Norman Erikson Pasaribu dianugerahi gelar Sastrawan Muda Asia Tenggara oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Jakarta, Senin malam.

Diberikan langsung oleh Ketua Mastera sekaligus Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dadang Sunendar, penghargaan tersebut diterima ayahanda Norman, Wilmar Pasaribu.

Pasalnya, Norman Erikson kini tengah mengikuti residensi penulis Indonesia di Vietnam. “Suatu hari nanti kami berharap ada sastrawan Indonesia yang akan meraih Nobel Sastra. Mereka yang muda-muda ini kami lihat punya potensi besar,” ujar Dadang usai menyerahkan penghargaan.

Di samping Norman Pasaribu, anugerah sama juga diberikan kepada penulis Hajah Nur Hamizah binti Haji Samihon (Brunei Darussalam), Nisah Haron (Malaysia) serta Hassan Hasaaree (Singapura).

Menurut panitia, Norman dipilih sebagai penerima penghargaan tingkat Asia Tenggara itu setelah melalui tahap penilaian yang cukup ketat dilakukan oleh sejumlah sastawan berpengaruh Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Ganjar Harimansyah, Seno Gumira Ajidarma, Agus R Sarjono serta Erlis Nur Mujiningsih.  Empunya sastawan Indonesia Sapardi Djoko Damono dan Seno Gumira Ajidarma kompak menyebut Norman sebagai “salah seorang penulis yang akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia”.

Lahir di Jakarta, 1990, Norman menerbitkan buku kumpulan cerita pertamanya Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, adalah salah satu dari lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa untuk Kategori Prosa pada 2014.Manuskrip buku puisi pertama Norman, Sergius Mencari Bacchus, menjadi pemenang pertama Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2015. Buku puisi ini juga masuk dalam daftar 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

Sementara itu, dalam Seminar Antarbangsa Kesusasteraan Asia Tenggara (SAKAT) yang juga digelar Mastera dalam kesempatan sama, soal pengembangan gagasan teori dan kritik sastra loka atau sastra tempatan, yakni teori dan kritik sastra yang berpijak pada budaya dan penggalian unsur-unsur kedaerahan masih terus disuarakan. Kegelisahan terhadap “dominasi” teori dan kritik sastra berasal dari Barat masih terus digugat. Masih ada kesan bahwa kajian-kajian sastra dari Timur hanya menjadi “makmum” dan Barat menjadi “imam”-nya dalam dunia sastra.

Mastera sendiri nampaknya ingin menyebarluaskan hasil pengembangan teori dan kritik sastra loka yang sudah dilakukan sejak 2012. Tak hanya itu, poin penting lain dari kegiatan ini adalah tolok ukur seberapa jauh teori dan kritik sastra loka berkembang dan diterima oleh masyarakat sastra di Asia Tenggara. Pembicara pun sengaja dihadirkan dari dalam dan luar negeri membahas berbagai topik, mulai dari teori nilai sastra dari Sutan Takdir Alisyahbana, sastra profetik dan sastra berasaskan Islam, estetika paradoks Jakob Sumardjo, teori SUKUT, hingga estetika dan nilai lokalitas dalam sastra dunia secara umum.
 
Lokalitas ini juga ternyata menarik perhatian. Karena di suatu tempat adakalanya begitu bervariasi suku dan budaya. Namun akhirnya sastrawannya sendiri yang meramunya dan menampilkan dirinya apakah karyanya penuh lokalitas atau sedang-sedang saja. ***

Wilmar Pasaribu
Editor :