logo

PB Percasi Optimistis dengan The Dream Team II

PB Percasi Optimistis dengan The Dream Team II

“Perjalanan panjang sekali, siklus tetap sama setelah ini akan ada evaluaasi latihan dan ini tidak terputus, karena Indonesia punya bakat yang besar. Dan strategi kita terdekat adalah mengundang tim lain untuk laga bertanding berikutnya yang lebih berat, karena kita bertujuan bukan untuk mencari kemenangan tapi untuk pelajaran,”
13 September 2017 07:43 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

JAKARTA (Suara Karya): Meski kalah dari Filipina dalam duel yang bertajuk "The Future Champions Chess Match 2017",namun PB Percasi optimistis dengan masa depan para pecatur cilik mereka. Bahkan Percasi yakin akan mampu mencetak The Dream Team II setelah sukses dengan The Dream Team I era GM Susanto Megaranto.

Tim catur The Dream Team II Indonesia harus mengakui ketangguhan Filipina dengan total poin, 22-26 dan Match Points (MP) 4-8.

Pada ajang ini, kedua tim diperkuat masing-masing delapan pecatur. Mereka menjalani laga selama enam babak, untuk kategori catur standar dan cepat, sejak 9 September 2017 di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Bekasi. 

Pada pertandingan terakhir babak keenam yang memakai catur cepat, Selasa (12/9), Indonesia memiliki peluang untuk menjuarai turnamen. Poin saat itu masih berimbang, 20-20. Namun beberapa pecatur Indonesia terlihat terburu-buru untuk segera menyudahi permainan. Imbasnya, empat pecatur kalah, sedangkan empat lainnya bermain remis. Sehingga, Indonesia hanya mengumpulkan dua poin, sementara Filipina enam poin. Dengan hasil ini, Novendra Priasmoro Cs hanya memperoleh poin akhir 22, sedangkan Filipina 26. Sementara hasil MP-nya 4-8.

 Dewan Pembina PB Percasi Eka Putra Wirya yang ikut memantau permainan, mengakui para pecatur Indonesia tampil kurang tenang. Mereka terlihat terburu-buru di babak terakhir. Padahal jika bisa fokus, mereka diyakini bisa mengimbangi, bahkan mengalahkan Filipina. “Para pemain masih terbawa euforia karena menang di babak kelima. Harusnya mereka di atas angin, lawan jadi tertekan. Tapi karena euforia ini, pemain jadi tidak fokus dan buru-buru ingin menang. Hasilnya, mereka malah kalah,” ujar Eka Putra.

Namun Eka mengaku, kedepan pihaknya tetap akan mencari lawan yang lebih berat untuk para pemain ini, karena tujuan utama dari laga ini adalah untuk mencari pengalaman bertanding dan bukan kemenangan semata. “Perjalanan panjang sekali, siklus tetap sama setelah ini akan ada evaluaasi latihan dan ini tidak terputus, karena Indonesia punya bakat yang besar. Dan strategi kita terdekat adalah mengundang tim lain untuk laga bertanding berikutnya yang lebih berat, karena kita bertujuan bukan untuk mencari kemenangan tapi untuk pelajaran,” tambah Eka. 

Eka mengaku optimis dengan masa depan The Dream Team II ini. "Mentalnya sudah mulai kelihatan. Tinggal kita arahkan terus dan saya suka dengan mereka. Asal tetap fokus kita akan bisa mencetak generasi selanjutnya setelah GM Susanto dan Irene," ujar Eka.

Pada laga itu, tim pemenang berhak atas hadiah 4000 dolar AS dan yang kalah 3000 dolar AS. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto