logo

Bayi Berumur Lima Hari Turut Mengungsi di Atas Kapal

Bayi Berumur Lima Hari Turut Mengungsi di Atas Kapal

Bayi baru berumur lima hari ikut mengungsi
Sungguh dahsyat perjalanan etnis Muslim Rohingya menghindari dari kekejaman tentara Myanmar yang sadis, terhadap anak-anak bangsa sendiri.

JAKARTA (Suara Karya): Relawan lokal Bangladesh menginformasikan kepada tim SOS Rohingya Aksi Cepat Tanggap (ACT) Rahardiansyah bahwa para pengungsi Rohingya yang lari dari kampung mereka di Rathedaung tidak memiliki lewat sungai Naf, namun memilih mengarungi laut.

“Mereka memilih lewat jalur laut menyusuri pinggiran teluk Bengal dari Rathedaung sampai ke Shamlapur, perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, padahal itu perlu waktu tiga hari. Ini sungguh keajaiban yang diberikan Alloh,” ujar Rahadiansyah menyampaikan informasi yang disampaikan relawan setempat.

Dalam sebuah perjalanan laut yang sangat kejam, ombak ganas, angin, dan hujan berputar di atas luasnya laut. Kombinasi itulah yang dirasa ribuan orang-orang Rohingya yang terdampar di Shamlapur.

 “Apalagi sebuah perahu kecil yang terdampar itu dimuat 100 orang Rohingya yang berjubel, berdesakan, asin digulung ombak laut. Ini sungguh sebuah keajaiban,” kata Rahadiansyah menambahkan.

Suatu hal yang memilukan , di antara ribuan warga Rohingya itu terdapat pendatang baru, kakek, nenek renta, perempuan, anak-anak, dan bayi merah yang baru berumur lima hari.

“Si bayi tidak pakai baju, tubuhnya sudah menggigilsetelah tiga malam digulung ombak di atas perahu penuh muatan manusia. Ibu dari si bayi hanya bias menyelimutinya dengan kain tipis seadanya,” katanya.

Ayah si bayi ini tewas di Rathedaung, Ditembak oleh militer Myanmar. Pada saat menerima kabar kedatangan ratusan pengungsi di Shamlapur, Tim SOS Rohingya ACT langsung bergerak menuju Shamlapur.

“Alhamdulillah, Sabtu lalu dibantu oleh relawan lokal, kami beli paket Sembilan bahan pokok , paket sanitasi, pakaian untuk para pendatang baru di Shamlapur,” ucapnya. Diperkirakan jumlah pendatang baru yang terdampar di pantai Shamlapurmencapai 10.000 orang. Mereka memilih jalur laut karena dianggap paling aman dari tembakan dan serangan refresif dari milter Myanmar.

 Di waktu yang sama relawan ACT lainnya mendistribusikan bantuan paket sembako di wilayah kamp Balukhali dan Kutupalong. Sejumlah 1000 paket sembako dan 10.000 paket nasi biryani tuntas diberikan kepada ribuan pengungsi Rohingya.

Yon Parjiyono
Editor : Yon Parjiyono