logo

Baru ACT yang Beri Bantuan Etnis Rohingya, Dipertanyakan Solidaritas Asean

 Baru ACT yang Beri Bantuan Etnis Rohingya, Dipertanyakan Solidaritas Asean

Manager Global Partnership Network Mohammad Faisol (kedua dari kanan), Direktur Creatif Strategic Comunication Norman P
Pembantaian secara keji terhadap warga etnis Rohingya bukan informasi pepesan kosong. Namun benar adanya. Tim relewan lokal yang memberikan informasi dan foto-foto akurat kepada tim SOR Rohingya ACT menyebutkan, hingga detik ini, tentara Myanmar masih membakar rumah-rumah warga etnis Muslim Rohingya.

JAKARTA (Suara Karya): Hingga awal pekan ini, belum ada negara lain di luar Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang membawa bendera Merah Putih dan mengatas namakan Indonesia memberikan bantuan kemanusiaan untuk warga etnis Muslim Rohingya yang dibantai , diperkosa, dan dianiaya secara keji oleh militer Myanmar.

Di mana Solidaritas ASEAN yang masih dipegang teguh masing-masing negara anggota.

Menurut laporan dua relawan ACT Mohammad Faisol dan Suriadi yang Sabtu (9/9) lalu kembali ke tanah air, bahwa kondisi ratusan warga Rohingya dilanda ketakutan yang luar biasa, sewaktu-waktu dalam kondisi terancam jiwanya akibat tindakan tak beradap dari tentara Myanmar.

“Saat ini masih ada 100 ribu orang lebih masih bertahan di wilayah perbatasan Myanmar, sementara 300 ribu orang lainnya sudah berhasil menyeberang ke Bangladesh melalui perairan Shamlapur. Mereka yang sudah menyeberang lautan menggunakan perahu kayu yang rapuh, tinggal di kamp pengungsian dengan kondisi memprihatinkan, hidup di tenda-tenda seadanya,” ujar Manager Global Partnership Network ACT Mohammad Faisol kepada wartawan di Media Center For Rohingya di lantai 11 Gedung 165, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (11/9).

Lebih lanjut Faisol didampingi Creative Strategis Comunication ACT Norman Priatna dan staf Global Partnership Network ACT Suriadi mengatakan, kawasan perbatasan Myanmar masih menjadi ajang pembakaran rumah milik warga etnis Muslim Rohingya, penjarahan dan penyiksaan secara tidak manusiawi oleh tentara-tentara Myanmar terhadap anak-anak, remaja, orang dewasa, dan bahkan para lansia yang lemah tak berdaya.

Menurut Suriadi, saat ini di perbatasan Bangladesh sedang musim hujan, ribuan warga terpaksa harus jalan kaki sejauh ratusan kilometer lalu menyeberangi sungai Naf. Dalam kesempatan itu ia memaparkan fakta terkini kondisi etnis Muslim Rohingnya, Mohammad Faisol sambil menahan air mata mengajak seluruh warga Indonesia untuk membangun solidaritas kemanusiaan, membantu kesulitan, ketakutan, ketertekanan yang dihadapi warga Rohingya.

Menurut data yang dimiliki relavan local di Myanmar, pada 2012 jumlah warga etnis Rohingya mencapai 7 juta jiwa, namun hingga 2017 ini jumlahnya tinggal 1,1 juta jiwa.

“Kita berdoa agar masyarakat Indonesia diberi kekuatan untuk membantu warga Muslim Rohingya yang terancam punah,” kata Faisol menambahkan. Dalam kondisi mencekam. “Meski situasi keamanan tidak kondusif, dilanda ketakutan akibat agresifitas tentara, Tim SOS Rohingya dibantu oleh relawan local, alhamdulillah berhasil menyalurkan 12 ton untuk 12 titik kamp pengungsian,” ucapnya.

Menurut Norban Priatna, saat ini ACT telah mempersiapkan 2000 ton beras berkualitas bantuan kemanusiaan akan segera dikirim Bangladesh. “Hari ini tim kami tengah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk meminta rekomendasi pengiriman bantuan kemanusiaan berupa beras sebanyak 2000 ton ke perbatasan Bangladesh, Insya Alloh diberi kemudahan jalan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Yon Parjiyono
Editor : Yon Parjiyono