logo

WZF Tegas Minta Lembaga Zakat Sedunia Turun Bantu Rohingya

WZF Tegas Minta Lembaga Zakat Sedunia Turun Bantu Rohingya

“WZF sangat menyesalkan krisis kemanusiaan di Myanmar yang berdampak sangat buruk terutama bagi etnis Muslim Rohingya yang tidak berdosa,” kata Sekjen WZF Bambang Sudibyo.

JAKARTA (Suara Karya) : Tragedi kemanusiaan di Myanmar akibat kekerasan militer setempat hingga membuat ribuan etnis Muslim Rohingya menderita dan harus mengungsi hingga ke negara tetangga, termasuk Indonesia membuat sejumlah forum kemanusiaan bergerak untuk peduli dan melakukan aksi konkret masyarakat. Oleh karena itu, World Zakat Forum (WZF) mengajak lembaga zakat sedunia untuk membantu mencari solusi mutakhir mengatasi  krisis kemanusiaan yang sedang terjadi dan menjadi sorotan dunia internasional tersebut.

Sekretaris Jendral WZF Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, CA dalam pernyataannya kepada pers nasional dan dunia menegaskan bahwa WZF sebagai sebuah forum sinergi antara organisasi pengelola zalat, praktisi, akademisi, dan stakeholder zakat lainnya, mempunyai kewajiban moral dan memiliki perhatian mendalam dalam krisis kemanusiaan yang saat ini terjadi di Myanmar yang telah dianggap sebagai kejahatan genosida.

Melalui forum WZF, lanjut Bambang, mengajak seluruh organisasi zakat di seluruh dunia menunjukkan keseriusannya serta komitmennya dalam mendukung korban dari konflik krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar. WZF juga mengajak untuk membuat langkah yang strategis, progresif, dan efektif untuk mengakhiri krisis kemanusiaan ini melalui kerjasama yang kuat antara negara-negara muslim  dan institusi internasional dan multilateral lainnya.

“Kerjasama ini juga termasuk menyediakan bantuan untuk para pengungsi Rohingya yang tersebar di beberapa bagian dunia,” katanya.

Ditanya pers selain bersifat mendesak dan mengajak komunitas untuk bergerak cepat dalam membantu krisis Rohingnya, Mantan Menteri Pendidikan dan Menteri Keuangan ini menyatakan bahwa WZF saat ini sedang dalam proses menyusun kerangka aksi kemanusiaan untuk membantu korban dari krisis kemanusiaan selain secara aktif mengajak anggota WZF dan negara-negara anggota WZF di dalamnya turun memberikan bantuan secara nyata. 

WZF meyakini, krisis kemanusiaan Rohingya ini dapat diselesaikan dan seluruh pihak terkait dapat menemukan solusi terbaik untuk dilaksanakan dalam jangka panjang.

Sejak berdiri  pada  30 September 2010 lalu di Yogyakarta, WZF juga telah memberikan perhatian khusus pada krisis kemanusiaan yang menimpa saudara-saudara muslim lainnya di belahan dunia.

“WZF didesain untuk memfasilitasi sebuah platform untuk institusi zakat dan pihak terkait untuk membangun dialog strategis dalam konsep  dan ide untuk implementasi zakat, seperti diskusi kebijakan, tujuan dan manfaat zakat. WZF juga telah bekerja untuk membangun transparansi, profesionalitas, dan menguatkan kepercayaan manajemen zakat. Selain itu, WZF melakukan analisa kontribusi zakat dalam bidang sosial pemberdayaan masyarakat, menguatkan zakat dalam peningkatan kesejahteraan  dan kualitas hidup penerima manfaat zakat,”ungkap Bambang.

Para anggota WZF adalah perwakilan dari lembaga zakat dan ahli zakat dari 21 negara, diantarnya Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, India, Bangladesh, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Qatar, Turki , Bosnia dan Herzegovina, Inggris Raya, Mesir, Maroko, Uganda, Sudan, Nigeria, South Afrika, dan Amerika Serikat.

Bambang Sudibyo yang juga merupakan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengatakan, sejak krisis kemanusiaan di Myanmar terjadi, lembaga yang dipimpinnya  turut menyalurkan bantuan kebutuhan bagi para pengungsi dengan zakat, infak dan sedekah yang ditunaikan oleh para para muzaki di seantero jagad yang dikelola dan disalurkan oleh Baznas.

Seperti diketahui Rohingya merupakan etnis yang tinggal di Rakhine yang masuk dalam wilayah negara Myanmar yang berbatasan langsung dengan negara Bangladesh. Etnis Rohingya sendiri sejak tahun 1965 tidak masuk dalam nama suku yang ada di Myanmar. Padahal sebelum tahun 1962 etnis Rohingya masuk dalam nama suku di Myanmar.


Kemudian sejak Junta militer tahun 1962 berkuasa dan setelah tahun 1965 nama Rohingya mulai hilang dan berakhir pada 1982. Bahkan mulai saat itu, yang sangat ironis dan mengenaskan, orang-orang Rohingya yang masuk ke Myanmar setelah tahun 1942 dinyatakan bukan lagi sebagai warga Myanmar.

Disinilah mulai muncul masalah, dimana orang-orang Rohingya ini dianggap rezim setempat menjadi tanpa kewarganegaraan. Walaupun hal itu dianggap benar sekalipun, etnis Rohingya tak memiliki kewarganegaraan, seharusnya masyarakat internasional tetap harus menolak genosida yang dilakukan militer Myanmar terhadap warga Rohingya, dan operasi militer tersebut harus segara dihentikan.

Beberapa pandangan pemimpin dunia juga tetap berharap terciptanya situasi dan kondisi damai di sana. Mereka juga mendorong pemerintah Myanmar dapat memulihkan hak kewarganegaraan Rohingya dan tetap diperlakukan sama dengan warga Myanmar lainnya, baik itu hak dan kewajiban atas nama kemanusian yang bersifat universal tanpa pembeda dan perbedaan.

AG. Sofyan
adalah wartawan Suara Karya sejak tahun 2002 dan juga author buku biografi tokoh nasional. Email: sofyanagus30@gmail.com
Editor : Gungde Ariwangsa SH