logo

Inovasi Atau Mati

Inovasi Atau Mati

Bangkrutnya NM di tahun 2017 bukanlah yang pertama, sebelum ramadhan kemarin Seven-Elevaen (Sevel) juga tutup. Tutupnya Sevel menjadi pelajaran berharga terkait ketatnya persaingan bisnis ritel.

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Informasi terbaru dari sidang kepailitan kasus Nyonya Meneer (NM) di Pengadilan Negeri Semarang Senin 4 September kemarin yang menghadirkan tim kurator, debitur dan kreditur menegaskan bahwa akumulasi hutang NM mencapai 250 miliar. Beban ini menjadi pembenar tentang fakta kesulitas likuiditas yang akhirnya menjadikan NM tidak bisa mengelak dari kebangkrutan sehingga operasionalnya harus berhenti. Di satu sisi hal ini tidak hanya berdampak terhadap keberlangsungan NM, tapi juga implikasinya terhadap ketenagakerjaan karena ada banyak karyawan yang pasti dirumahkan atau di PHK. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa persaingan global semakin menuntut ada inovasi di semua aspek sehingga daya saing produk menjadi sangat penting. Dari kasus NM tentu korporasi harus belajar untuk mengantisipasi semua perubahan yang terjadi.

Nyonya Meneer (NM) adalah ikon industri jamu nasional dan nama Nyonya Meneer sendiri adalah nama dari Lauw Ping Nio yang dikenal sebagai wirausawan di industri jamu. Sukses perjalanan bisnis jamu NM yang berdiri sejak 1919 akhirnya tumbang di tahun 2017 setelah dinyatakan pailit. Imbas dari bangkrutnya NM tidak hanya memberi dampak terhadap peta persaingan industri jamu nasional tapi juga konsekuensinya bagi karyawan sehingga hal ini memberikan implikasi terhadap bertambahnya pengangguran. Artinya, semua potensi usaha yang ada tidak bisa mengabaikan adanya ancaman, baik itu dari internal ataupun eksternal. Oleh karena itu, kebangkrutan sejumlah korporasi perlu dikaji seksama, termasuk juga peran pemerintah untuk mereduksi ancaman serupa terutama terkait dengan regulasi yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Proses

Berita duka bangkrutnya NM tidak bisa terlepas dari persoalan tanggungan hutang, meski ada juga rumor yang muncul terkait konflik dinasti penerus usaha NM. Selain itu, tuntutan inovasi produk juga diyakini sebagai salah satu penyebab bangkrutnya NM di era persaingan yang kian ketat. Artinya, sentimen tentang lesunya industri jamu nasional terbantahkan karena kinerja bursa emiten jamu justru terus meningkat. Paling tidak, hal ini terlihat dari ekspansi Sido Muncul yang terus berkembang dengan berbagai produk dan segmentasinya yang menyasar generasi muda dan kelas menengah atas.

Kekuatan bisnis dari NM tidak bisa terlepas dari pesaingnya misal Jamu Jago, meski pesaing baru terus bermunculan untuk mencuri celah pasar. Di satu sisi bangkrutnya NM juga menjadi pembenar tentang periodeisasi dinasti bisnis yaitu generasi pertama usaha rintisan, lalu generasi kedua adalah membesarkan, sementara ancaman justru terjadi di generasi ketiga yaitu menghabiskan. Meski hipotesa ini tidak sepenuhnya benar tetapi kasus-kasus kebangkrutan sejumlah korporasi bisnis menarik dicermati dan tentu harus bisa menjadi pembelajaran, tidak hanya di bangku pendidikan tapi juga di dunia nyata bisnis agar tidak terulang.

Bangkrutnya NM di tahun 2017 bukanlah yang pertama, sebelum ramadhan kemarin Seven-Elevaen (Sevel) juga tutup. Tutupnya Sevel menjadi pelajaran berharga terkait ketatnya persaingan bisnis ritel. Padahal, sejak masuk tahun 2008 perkembangan Sevel sangat pesat dan menjadi ikon tempat nongkrong favorit. Bahkan, sevel yang dikelola PT Modern Sevel Indonesia sebagai anak PT Modern International Tbk menjanjikan potensi persaingan bisnis ritel semakin prospektif. Yang menarik, ternyata Sevel hanya ada di Jakarta dan sejumlah kota besar lain belum terealisir rencana ekpansinya sampai akhirnya Sevel tutup. Padahal, sebaran gerai Sevel cukup besar di 17 negara mencapai sekitar 59.000 dengan kumulatif terbesar di Amerika dan Jepang. Artinya, kasus yang menimpa Sevel dan NM memberikan pelajaran berharga tentang ketatnya persaingan.

Jaminan

Pemerintah perlu mengkaji kasus tutupnya NM dan Sevel agar tidak menimpa industri serupa nantinya. Paling tidak, tutupnya NM dan Sevel juga berpengaruh terhadap jumlah PHK dan tentu ini berdampak terhadap akumulasi pengangguran. Terkait ini, pemerintah yakin bahwa kasus Sevel murni karena kesalahana manajemen dalam memilih bisnis model sehingga pesaing lebih unggul, sementara di kasus NM terkait pengelolaan yang akhirnya tidak bisa membayar hutang dan berujung penetapan pailit oleh PN Semarang pada Kamis 3 Agustus 2017. Meski demikian, masih ada generasi dari turunan NM yang sukses membangun industri jamu dengan label Dua Putri Dewi sehingga diharapkan bisa belajar dari kasus NM. Oleh karena itu, tantangan inovasi menjadi kunci untuk mampu bersaing di era global dan daya saing adalah penting karena ini menyangkut adaptasi.

Kasus Sevel juga tidak mengelak dari kesalahan lambatnya beradaptasi sebab konsumen akan terus berubah. Artinya, tuntutan beradaptasi juga menjadi penting ketika perilaku konsumen berubah dan pesaing terus muncul untuk merebut pangsa pasar dari kalangan generasi muda. Selain itu, mengikuti trend yang ada juga perlu dipertimbangkan sebagai upaya belajar dari kasus NM dan Sevel. Faktor lain yang juga perlu dikaji yaitu tuntutan diversifikasi agar berbeda dari yang lain sebagai format keunggulan kompetitif. Belajar bijak dari kasus NM dan Sevel maka yang terpenting adalah komitmen terhadap inovasi dan yang utama bahwa inovasi tersebut jangan salah sasaran. Inovasi yang berdampak terhadap high cost justru berakibat fatal. Tidak ada alasan bagi industri serupa agar terus belajar dari kasus NM dan Sevel karena pesaing akan terus ada dan mencari titik lemah yang bisa merebut pasar. Hal ini menjadi kajian bagi yang lain sebagai upaya pemetaan kekuatan dan kelemahan sehingga dapat dirumuskan taktik dan strategi untuk bertarung di era kompetisi bisnsi yang semakin ketat. ***

Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :