logo

Aria Bima Sebut Tindakan Masinton Pasaribu, Berlebihan

Aria Bima Sebut Tindakan Masinton Pasaribu, Berlebihan

Politisi PDIP Aria Bima
Politisi PDIP Aria Bima menilai perilaku Masinton perlu direm terkait tugas, wewenang, dan kewajibannya sebagai anggota sekaligus pimpinan Pansus Hak Angket KPK.
10 September 2017 05:48 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SOLO (Suara Karya): Politisi PDIP, Aria Bima, menyebut tindakan Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK, Masinton Pasaribu, overreacting atau berlebihan. Menurut Aria Bima, kepada wartawan di Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/9) ada perilaku Masinton yang perlu direm terkait tugas, wewenang, dan kewajibannya sebagai anggota sekaligus pimpinan Pansus Hak Angket KPK.

"Ini sangat perlu, jangan sampai yang dilakukan bersifat personal, karena dia mewakili fraksi dan partai. Tidak bisa melakukan tindakan yang berlebihan yang akan mengaburkan semangat kerja Pansus dan tugas sebagai anggota dan sekaligus pimpinan Pansus KPK," jelasnya.

Aria Bima mengatakan ada perilaku dan tindakan yang tidak perlu dilakukan oleh Masinton. Meskipun mengkritik tindakan Masinton yang juga politisi dari PDIP, anggota komisi VI DPR RI itu menilai kinerjanya sebagai anggota dan pimpinan Pansus Hak Angket KPK terkait tugas sudah cukup baik

"Yang saya anggap terlalu berlebihan, perlu direm. Saudara Masinton selaku pimpinan Pansus harus mengurangi tindakan yang bersifat personal kecuali itu menyangkut tugas sebagai anggota dan pimpinan Pansus KPK," jelasnya lagi.

Karena dasar, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh Pansus KPK adalah untuk mengoptimalkan kinerja KPK, lanjutnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Pansus Hak Angket, Masinton Pasaribu mendatangi gedung KPK dengan membawa koper berwarna hitam yang diakuinya berisi pakaian. Dirinya datang ke KPK untuk minta agat ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Permintaan tersebut didasari pernyataan dari Ketua KPK yang berencana menggunakan pasal menghalangi proses penyidikan dan persidangan terhadap Pansus Hak Angket DPR. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto