logo

Memberi Pilihan Positif Agar TIdak Memilih Narkoba

Memberi Pilihan Positif Agar TIdak Memilih Narkoba

Penyalahgunaan narkoba, biasanya beralasan karena ada masalah keluarga, pengaruh teman sebaya, gangguan mental, atau pengaruh riwayat penggunaan candu dalam lingkungan keluarga.

Oleh: Haryono Suyono

Dewasa ini media nasional penuh dengan  berita peperangan. Dalam forum internasional semua pihak mengutuk kekerasan yang terjadi di negara tetangga, utamanya Tragedi Muslim Rohingya. Di Tanah Air setiap hari juga perang melawan koruptor, ada saja pejabat kondang tertangkap tangan karena korupsi, bukan karena mengulurkan tangan mengentaskan keluarga miskin. Pidato para pemimpin isinya saling mencaci maki, jarang yang mengajak hidup tenteram dan damai. Presiden memberi petunjuk dengan keliling dan membagi hadiah kepada rakyatnya seakan membagi sekedar orang miskin. Sungguh Indonesia sedang dikepung suasana yang sangat memprihatinkan.

Sementara itu cerita kuno bahwa penduduk Indonesia dikepung oleh lingkungan yang indah dan selalu dikagumi oleh penduduk dunia, dikesankan sedang diserang oleh ancaman yang dahsyat, mulai pada anak yang masih kecil, anak remaja dan penduduk dewasanya. Berita-berita menunjukkan bahwa serangan itu menjalar dengan sengaja melalui contoh kehidupan para selebritis terkenal dengan tujuan tersembunyi agar kehidupan itu ditiru oleh penduduk biasa. Kehidupan mewah diharapkan ditiru oleh mereka yang memiliki uang menumpuk agar bisa disebut modern.

Kekuatan keluarga sebagai soko guru pemersatu bagi anggotanya diserang melalui gadget modern yang dapat dipergunakan dengan mudah untuk mengakses model dunia. Padahal ada rentetan peran pengikat yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Beberapa faktor itu, di masa lalu diamankan dalam lingkungan keluarga dan teman sejawat. Tetapi selebritas yang biasa membawakan tontonan baru yang bisa ditiru mulai goyah. Beberapa faktor untuk bertahan itu mulai goyah karena keluarga dan teman sejawat tidak bisa dipegang lagi sebagai teladan, karena sedang tergoda contoh negatif yang tidak kondusif.

Contoh negatif itu adalah penyalahgunaan narkoba, yang biasanya beralasan karena ada masalah keluarga atau pengaruh teman sebaya, gangguan mental, atau pengaruh riwayat penggunaan candu dalam lingkungan keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang mulai bereksperimen pada usia muda memiliki kesempatan lebih tinggi mengidap kecanduan di kemudian hari.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk melihat tanda-tanda penyalahgunaan zat pada masa usia dini, remaja dan dewasa dengan lebih seksama. Kebanyakan individu mulai menjadi awal pengguna dari kebiasaan yang kemudian mengarah menjadi ketagihan sebelum sebagai pecandu yang sukar diputuskan. Ada garis tipis antara penggunaan biasa dengan penyalahgunaan dan kecanduan narkoba.

Sangat sedikit pecandu mampu mengenali ketika mereka mulai tertarik atau melewati garis kritis itu. Sementara frekuensi atau jumlah obat yang dikonsumsi tidak selalu merupakan penyalahgunaan obat atau kecanduan, kedua hal ini sering dijadikan indikator masalah terkait obat-obatan terlarang. Karena itu kewaspadaan tidak dapat ditawar-tawar.

Dewasa ini awal kecanduan konon mulai dari saat balita. Tidak ada cara mudah untuk mengetahui apakah anak kita menggunakan narkotika atau makanan lain yang berisi narkoba. Banyak tanda dan gejala penyalahgunaan narkotika memiliki karakteristik yang serupa dengan perilaku anak-anak dan remaja pada umumnya. Tanda penggunaan itu mirip dengan masalah sehari-hari seperti kegelisahan, gangguan mental, depresi atau sekedar gangguan kecemasan yang disebabkan masalah biasa sehari-hari.

Oleh karena itu tingkat kewaspadaan perlu dilakukan sejak saat yang sangat dini. Anak-anak balita perlu dikirim ke pendidikan anak usia dini yang memberikan alternatif dan memberi anak balita itu dengan mainan kreatif positif bebas dari kegelisahan. Melalui tawaran itu, PAUD yang diikuti seorang anak balita bisa menjadi penawar apabila dalam lingkungan keluarga anak balita itu tidak atau kurang mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya, saudaranya yang dominan, yang tidak memberi kebahagiaan. Suatu stress yang tidak dapat digantikan oleh Bunda PAUD akan digantikan oleh para pengedar “narkoba” untuk menyajikan penawar dalam bentuk senyum, kasih sayang, permen atau apa saja yang menarik yang akhirnya membuat anak balita itu bebas dari tidak bahagianya.

Apabila tawaran itu menarik, anak itu akan terus membeli dan menjadi kecanduan terhadap tawaran manis itu, atau mungkin saja “narkoba untuk anak-anak”. Solusi kesenangan itu merupakan inisiasi yang di kemudian hari bisa menjadi kecanduan. Oleh karena itu setiap Bunda PAUD harus mampu mendeteksi sikap dan tingkah laku anak didiknya dan memberi kepada anak yang diduga menderita seperti itu perhatian yang lebih besar.

Ada baiknya sering diadakan pertemuan dengan kedua orang tuanya agar hubungan antara anak balita dan kedua orang tuanya menjadi lebih akrab dan anaknya tidak mendapatkan gangguan rasa tertekan dalam lingkungan keluarga. Kalau ada masalah, anak-anak tidak lari pada solusi instan kecuali kembali kepada keluarganya. Pada anak-anak usia SD gangguan rasa tertekan atau sikap dan tingkah laku seperti itu makin tinggi.

Anak-anak dewasa ini sangat terganggu oleh alat gadget yang canggih karena melihat kedua orang tuanya sangat kecanduan pada alat tersebut. Banyak kesempatan orang tua bersama anak-anak tetapi sesungguhnya tidak ada komunikasi antara anak dan kedua orang tuanya. Pada usia SD anak-anak menghadapi pertemanan yang makin “ganas” sehingga tingkat rasa percaya diri, gangguan dari sesama teman dan kemampuan menyerap masukan dari para guru menjadi lebih berat, akibatnya kemungkinan gangguan jiwa bagi anak menjadi semakin besar.

Dalam kondisi seperti itu perhatian, cinta kasih guru dan tuntunan guru secara positif sungguh sangat diperlukan agar anak-anak memperoleh rasa tenteram dan tetap menikmati kehidupan di sekolah dengan segala tantangannya. Sekolah tetap sebagai idaman yang ceria bagi setiap siswa. Oleh karena itu para guru dan sistem pendidikan di Indonesia perlu ditata agar para guru makin waspada terhadap gangguan dari luar, baik dalam bentuk pengganggu yang ingin berorientasi menjual gagasan awal penggunaan narkoba atau gangguan sederhana dalam bentuk penggunaan gadget yang menggoda, yang jumlahnya makin banyak dan sangat mengganggu para guru dalam memberikan pelajaran kepada siswanya.

Dewasa ini setiap guru perlu waspada karena kekuasaannya tidak lagi mutlak serta kewibawaan yang ditantang setiap harinya. Anak sekarang bukan lagi anak-anak keluarga yang kedudukan sosialnya lebih rendah dari guru, tetapi anak-anak yang orang tuanya memiliki kuasa yang lebih tinggi dari gurunya. Atau orang tua yang kekayaannya jauh lebih besar sehingga pengaruhnya kepada anak didik juga sangat tinggi.

Guru yang bijaksana pasti mengetahui bagaimana bertindak secara profesional di dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam mencegah agar anak didik tidak lari dari rasa tertekan kepada pilihan narkoba untuk menenangkan diri, para guru perlu mencari terobosan yang lebih menarik agar anak didik tidak perlu merasa tertekan apabila tertinggal atau menghadapi mata pelajaran yang berat. Para guru memberi perhatian, harapan dan tuntunan bagi anak didik yang tertinggal tanpa mengucilkan dari lingkungan murid lain yang lebih cerdas. Melalui pemberian dukungan itu anak didik diberi kesempatan menyelesaikan studinya dengan baik. Dukungan itu adalah pilihan positif untuk tidak tergoda pada penggunaan narkoba.***

Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Taskin RI.

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH