logo

Sistem Pendidikan  Tradisional dan Modern Semestinya Berdampingan

Sistem Pendidikan  Tradisional dan Modern Semestinya Berdampingan

Cefrian Rilasada Saputra
llmu bukan semata-mata menjadi tekstualitas, tetapi ilmu adalah metode Tuhan dan pencapaian manusia dalam bertauhid.  Berpikir tanpa ilmu adalah kepalsuan, tetapi menggunakan ilmu tanpa berpikir adalah keterbelakangan, jadi berijtihad dengan kesadaran adalah keselarasan hidup".

Oleh: Cefrian Rilasada Saputra

Pendidikan adalah suatu proses yang mencakup tiga faktor yaitu individu, masyarakat atau komunitas dan seluruh isi realitas baik material maupun spiritual yang berperan dalam menentukan sifat dan nasib manusia dan masyarakat.

Dalam perspektif pendidikan, manusia bersifat sebagai subyek dan obyek pendidikan. Jelas bahwa faktor utama pendidikan adalah usaha untuk menyeimbangkan konsep dan sikap untuk mengembangkan tujuan yang tercapai. 

Sikap inilah yang menjadikan ambivalen pendidikan, maksudnya sistem dalam pendidikan mempunyai sifat pembeda dalam arti dapat dikatagorikan sebagai mayor dan minor.

Hal ini dapat dipahami melalui rasionalitas pendidikan itu sendiri. Sikap mendasar pendidikan itu terletak pada tujuan dan output nya. Seperti yang dipahami melalui berbagai karakteristik atau sekte pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa dalam arti sempit pendidikan itu ada dua yang paling mendasar yaitu, pendidikan tradisional dan pendidikan modern.

Hampir di seluruh negara Islam ada dua sistem pendidikan, tradisional dan modern. Sementara pada masa awal agama Islam hanya ada satu sistem pendidikan yang mengajarkan mata-ajar agama dan keduniaaan seperti teknik dan kedokteran. 

Kini sistem tradisional memberikan beberapa mata-ajar inti seperti, membaca Al-Quran (Tajwid, Qiraah, dan Hifdz), Fiqh, Tafsir, Hadist, Bahasa dan Sastra Arab. Di beberapa tempat lain juga mengajarkan sejarah islam, matematika dan logika klasik (Manthiq) tanpa menyertakan perkembangannya yang terjadi di Barat. Jadi filsafat dimasukan pada satu atau dua bagian secara lebih sederhana. 

Selain itu ia tidak mengajarkan perbandingan agama, studi perbandingan hukum Islam dan Barat, sains alam dan sosial yang berkembang di Barat. Jadi sebagai substansi dari sebuah pendidikan adalah terciptanya sumber daya manusia yang saleh, maksudnya kesalehan adalah tujuan utama dari pendidikan. Bukan ditentukan oleh skor dan penilaian.

 

Metode pendidikannya tidak memberikan kebebasan berfikir dan menyelidik. Pendidik dipandang sebagai model pengajaran. Sistem pendidikan ini tidak dapat menjawab atau bahkan tidak menyadari besarnya tantangan peradaban modern. Hal tersebut juga dikenal di Maroko sebagai sistem fundamental.

Pendidikan modern berarti pendidikan sekular yang menyamakan cara pengajaran mata-ajar agama dan non-agama seperti matematika dan geografi. Jadi tiada sesuatu yang dianggap pasti. Pendekatannya terhadap pengetahuan betul-betul skeptis.

Tujuan pendidikannya (tidak) membantu pertumbuhan kepribadian yang seimbang atau harmoni antara segi intelek, emosi dan jasmani. Ada upaya untuk mempertahankan norma-norma moral tetapi pendidik dan pengajarannya menghadapi kesulitan untuk menganut suatu norma etika umum. 

Sistem tersebut banyak diminati oleh pemerintahan Islam maupun nasional, seperti halnya Indonesia, Turki, Arab dan Korea Selatan. Sangat mendukung sistem pendidikan ini karena menyadari bahwa melalui sistem inilah mereka bisa menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi baik serta terampil. Sistem ini bertujuan untuk untuk menangani problem-problem kehidupan masyarakat modern dan industri.

Dengan demikian bahwa sistem pendidikan membawa nilai perubahan masing-masing dalam aplikasinya. Banyak reformasi yang dilakukan pengelola pendidikan demi merubah sistem pendidikannya, dengan cara penggabungan atau marger. Selain itu, mengadakan Reevaluasi terhadap sistem, tujuan maupun kurikulumnya agar bisa dipadukan secara komprehensif. 

Tetapi sistem tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dan muatan konteksnya. Inilah persoalan sesungguhnya dalam sistem pendidikan di Indonesia yang tidak dapat dipecahkan dengan menolak persoalan keduanya.

Perbedaan antara dua sistem pendidikan ini bukan terletak pada bungkus semata, tetapi juga mengenai pendekatan terhadap tujuan pendidikan.

Dalam konsep dasar manajemen pendidikan Islam, Sistem tradisional mengacu pada teo-antroposentris artinya berpusat kepada Tuhan, Al-Quran dan Hadist. Dan sistem ini bermaksud membuat peserta didik memiliki tauhid dan komitmen yang kuat terhadap Tuhan dengan mentaati perintahNYA, serta memahami fenomena dengan dan tanpa kekuasaan Illahi. 

Sedangkan sistem modern mengacu pada antroposentris dengan artian hanya filsafat dan temuan manusia sebagai landasannya. Disisi lain sistem tersebut menolak eksistensi Tuhan, dengan kata lain menjelaskan alam semesta dan fenomena tanpa wawasan Illahi atau dapat dibuktikan secara Ilmiah dengan akal.

Manusia dituntut hidup berkembang dan terorganisasi dengan baik. Hal tersebut dengan kata lain kita tidak bisa terus-menerus terisolasi dan menolak perkembangan di sains dan teknologi. Cerminan dari sistem tersebut dapat diejawantahkan sebagai ushlub (metode) pendekatan kita dengan Tuhan. 

Sains dan tekhnologi patuh kepada Tuhan dengan cara tidak menolak dan melawan arus alam semesta. Contohnya Hukum Tuhan dalam gravitasi, Pesawat tidak akan bisa melawan hukum tersebut, sehingga pada pesawat menggunakan sistem aorodinamis pada sayap sehingga dapat menyeimbangkan pesawat ketika terbang.

Sudah semestinya keilmuan selalu berdampingan dan melengkapi sehingga dapat memberikan manfaat bagi alam dan manusia dalam berkehidupan Rahmatan Lil Alami.***

*** Cefrian Rilasada Saputra, 

Mahasiswa Semester 8 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STIT MADINA Sragen. Pernah menjabat Presiden Mahasiswa 2 periode 2015-2016, dan 2016-2017.

 

 

 

 

 

 

 

Muhajir
Wartawan Suara Karya
Editor :