logo

Pembentukan Posdaya Berbasis Masjid Bisa Dilakukan Mahasiswa dan TNI.

Pembentukan Posdaya Berbasis Masjid Bisa Dilakukan Mahasiswa dan TNI.

Pancasila menghidupkan kembali budaya gotong royong, yang menjadi prioritas saat terjun ke desa.

JAKARTA (Suara Karya): TNI dan mahasiswa saat kuliah kerja nyata (KKN) tematik Posdaya berbasis Masjid, bisa dipadukan untuk masuk ke desa. Pancasila menghidupkan kembali budaya gotong royong, yang menjadi prioritas utama dalam rangka terjun ke desa.

Demikian dikemukakan penggagas KKN tematik Posdaya Prof Dr Haryono Suyono, saat memberi pengarahan di hadapan ratusan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan para relawan Posdaya, di Gedung pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (17/6).

Dikemukakannya, kalau selama 17 tahun terakhir ini tidak ada yang berbicara tentang Pancasila, maka saatnya kini berbicara Pancasila. DPL diharapkan berbicara tentang nilai-nilai Pancasila saat melakukan KKN Tematik Posdaya berbasis Masjid.

Dia nenjelaskan, hikmah dari Pancasila ada 3 yaitu jiwa dan kepribadian bangsa, pemersatu Bangsa, serta perjanjian luhur bangsa. Dalam rangka terjun ke desa harus disesuaikan dengan program MDGs yaitu pokok utamanya adalah dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia. "Dalam pelaksanaan MDGs banyak sekali hutan-hutan dibabat dan ikan-ikan di laut dihabiskan," ujarnya.

Untuk itu, program baru PBB yakni Sustainable Development Goals (SDG's) menekankan perlu pelestarian lingkungan, untuk keperluan anak cucu di kemudian hari. Target utama dari SDG's, dijelaskan mantan Menko Kesra dan Taskin itu ialah pengentasan kemiskinan, menghapus kelaparan, serta mempersempit kesenjangan. Karenanya, gotong royong di desa harus ditingkatkan, mulai dari taman kanak kanak sampai perguruan tinggi, itulah Pancasila.

Dengan demikian, akan muncul pemimpin yang nantinya akan menghormati rakyat, bukan rakyat yang menghormati pemimpinnya. Untuk lingkungan, ujarnya, desa yang gundul harus diubah dijadikan kebun bergizi. "Pelaksanaannya tentu dibantu mahasiswa KKN dan TNI masuk Desa," ucapnya.

Dia mengakui, UIN Maliki Malang telah melakukan pemantapan terutama dalam proses pendataan keluarga, dan peta keluarga. "Ini sangat penting karena merupakan bagian dari KKN Posdaya berbasis Masjid," tutur dia.

Hadir pada acara ini Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Mudjia Rahardjo, Aster Kodam Brawijaya Kol TNI ZI Wahyono,  dan  Ketua LPPM Dr Hj Mufidah Ch, MAg.

Pada kesempatan itu, Rektor UIN Maliki Malang mengemukakan, sejak 5 tahun yang lalu KKN tematik Posdaya berbasis Masjid merupakan program prioritas dari perguruan tinggi tersebut. Saat ini, telah berkembang pesat serta dijadikan contoh bagi perguruan tinggi islam di seluruh indonesia.

Dikatakannya, DPL memiliki peran yang sangat strategis dalam pengabdian masyarakat, dan Posdaya telah memiliki dampak positif bagi masyarakat. Untuk itu, UIN Maliki Malang telah melibatkan TNI dalam turut serta membangun bangsa.

Pascareformasi, ujarnya, banyak yang terlena melalaikan Pancasila. Dikatakannya, sekarang ini saatnya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Karenanya, KKN diharapkan sebagai pelopor bangkitnya pengamalan Pancasila di lingkungan masyarakat.

DPL adalah orang-orang terpilih dan memiliki dedikasi yang tinggi. Masyarakat sangat rindu dibimbing oleh para DPL, karena itulah kehadiran DPL sangat ditunggu tunggu oleh masyarakat desa.

Di sisi lain, dia mengungkapkan, kerja sama dengan berbagai kalangan termasuk dengan TNI, Polri, alim ulama, atau para sesepuh sangat dibutuhkan, untuk pengembangan UIN Maliki Malang. "Agenda pokok dalam pengembangan ini adalah KKN tematik Posdaya berbasis Masjid," ujarnya.

Di bagian lain, Aster Kodam V Brawijaya Kol TNI ZI Wahyono, yang diwakili oleh Kol TNI Didi Suryadi mengatakan, TNI Manunggal Membangun Desa atau TMMD saat ini telah melibatkan lebih dari 7000 prajurit TNI, dan pelaksanaanbya selama 1 bulan di desa.

Diungkapkannya, Prof Haryono merupakan tokoh yang membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera di Indonesia. Sementara, kedudukan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, serta sebagai fundamental, falsafah dan pikiran yang mendalam. Ini merupakan pandangan hidup bangsa.

Karenanya, pembangunan kependudukan diharapkan berbasis Pancasila. Selama ini, kata dia, tidak sedikit mahasiswa yang tidak hafal dengan Pancasila, termasuk banyak anggota DPR juga tidak hafal tentang Pancasila.

"Ini hal yang sangat memprihatinkan," ujarnya. Tugas dari mahasiswa, lanjut dia, antara lain mempelajari sejarah bangsanya. Untuk itu, perlu adanya pemahaman nilai nilai Pancasila.

"Harus hati-hati, untuk membuat bangsa ini hancur caranya antara lain adalah membuat bangsa ini melupakan sejarah bangsanya sendiri," tutur dia. Untuk itu, imbuhnya, para mahasiswa harus mendapat sejarah bangsa yang benar. Agar bangsa ini tetap utuh dan lestari.

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -