logo

Publik Tunggu Sikap Kritis Refly Harun dan Fadjroel Rachman

Publik Tunggu Sikap Kritis Refly Harun dan Fadjroel Rachman

Refly Harun dan Fadjroel Rachman. (Ist)
Patut dimaklumi, karena keduanya saat ini berada di wilayah yang berbeda seperti sebelumnya. Refly Harun dan Fadjroel Rachman tercatat sebagai salah satu Komisaris Utama di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

JAKARTA (Suara Karya): Refly Harun dan Fadjroel Rachman sosok yang kritis di masa lalu yang kini hampir tak terdengar lagi suara nyaringnya. 

Hal tersebut patut dimaklumi, karena keduanya saat ini berada di wilayah yang berbeda seperti sebelumnya. Refly Harun dan Fadjroel Rachman tercatat sebagai salah satu Komisaris Utama di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Refly menjabat sebagai komisaris utama Jasa Marga dan Fadjroel sebagai Komisaris Utama Adhi Karya. Sebagai komisaris utama keduanya sama-sama menikmati gaji tinggi dengan pekerjaan yang relatif santai.

Gaji yang tinggi ini didapatkan dari gaji pokok, ditambah tunjangan berupa (uang transport, THR, serta asuransi purna jabatan). Yang paling besar tentunya tantiem atau insentif kinerja yang diperoleh setahun sekali.

“Meskipun sama-sama menjabat sebagai Komisaris Utama di BUMN, ada perbedaan pendapatan penghasilan dari keduanya,” ungkap Koordinator Investigasi Center for Budjet Analysis (CBA), Jajang Nurjaman dalam siaran pers yang diterima suarakarya.id, Selasa (13/6).

Untuk Fadjroel Rahman sebagai Komisaris Utama Adhi Karya, ia mendapatkan gaji pokok perbulannya sebesar Rp54.450.000, gaji pokok Fadjrul ternyata masih kalah besar dibanding yang diterima gaji pokok Refly yakni sebesar Rp58.500.000.

Sedangkan untuk tunjangan yang didapat Fadjroel sedikit lebih besar dibanding yang diperoleh Refly. Total tunjangan yang diperoleh Fadjroel sebesar Rp78.952.500, tunjangan ini termasuk (asuransi purna jabatan, uang transport dan THR). Untuk tunjangan Refly hanya mendapatkan sebesar Rp70.425.000 berupa uang transport dan THR.

Namun yang paling besar tentunya insentif kinerja yang diperoleh setahun sekali dari laba bersih perusahaan.

Insentif kinerja yang diperoleh Fadjroel selama tahun 2016 sebesar Rp126.275.941, namun angka ini tidak ada apa-apanya dibanding insentif kinerja yang diperoleh Refly Harun sebesar Rp782.262.659.

Total pendapatan Fadjroel sebagai Komisaris Utama Adhi Karya dalam setahun mencapai Rp1.128.155.941, sedangkan Refly Harun dalam setahun bisa memperoleh pendapatan dari Jasa Marga sebesar Rp1.685.862.659.

Refly sepertinya lebih beruntung dibanding Fadjroel karena ditempatkan di Perusahaan Jasa Marga. Sedangkan Fadjroel harus bekerja lebih keras lagi sebagai Komisaris Adhi Karya kalau mau insentif kinerja di tahun 2017 tidak kalah besar dari Refly.

“Kalau boleh menyimpulkan, ada dua kemungkinan soal tak terdengarnya lagi suara kritis kedua tokoh ini. Pertama karena keduanya memang benar-benar sedang fokus menjalankan amanah negara sebagai Komisaris Utama di BUMN. Atau sebaliknya beliau-beliau ini sudah terlalu nyaman dengan gaji miliaran sebagai Komisaris BUMN,” tandasnya. 

Muhajir
Wartawan Suara Karya
Editor : Gungde Ariwangsa SH