logo

Membangkitkan Semangat Memancarkan Energi Positif

 Membangkitkan Semangat Memancarkan Energi Positif

Pemimpin sebaiknya tidak jemu-jemunya memperbaiki timnya, menggunakan apa pun yang dijumpainya sebagai peluang untuk mengevaluasi, membimbing, dan membangun rasa percaya diri.

Oleh :   Dr Mulyono D Prawiro

Tidak terlalu banyak orang yang mendapatkan amanah atau kepercayaan dari rakyat untuk memimpin jalannya pemerintahan, hati dan pikirannya sepenuhnya dicurahkan kepada kepentingan rakyat banyak. Tidak sedikit rakyat merasa kecewa dengan pemimpin yang dipilihnya, itu bukan karena pemimpin tidak memikirkan, tetapi mungkin juga karena banyaknya kendala yang harus dihadapi setelah yang bersangkutan duduk sebagai pemimpin.

Banyaknya kendala itu yang menyebabkan seorang pemimpin merasa tidak mampu menghadapi situasi dan akhirnya jauh dengan rakyat yang dipimpinnya. Di antara sekian banyak pemimpin yang ada, masih ada juga pemimpin yang dengan berbagai cara mampu menerobos kendala dan mampu mengatasinya dengan baik, mereka menjadi teladan dan contoh yang membanggakan, tetap dekat dengan rakyat dan dicintai rakyat banyak.

Jack Welch dalam bukunya yang berjudul Winning mengingatkan, bahwa pemimpin sebaiknya tidak jemu-jemunya memperbaiki timnya, menggunakan apa pun yang dijumpainya sebagai peluang untuk mengevaluasi, membimbing, dan membangun rasa percaya diri. Mengevaluasi dalam arti, memastikan bahwa orang yang tepat berada dalam pekerjaan dan posisi yang tepat, mendukung dan memajukan mereka yang tepat, dan menjauhkan mereka yang dianggap kurang atau tidak tepat.

Sedangkan membimbing berarti menunjukkan arah, memberikan masukan, dan membantu orang untuk memperbaiki prestasi kerjanya dengan cara yang elegan. Sedangkan membangun rasa percaya diri berarti membesarkan hati, mempedulikan rakyat, dan mengakui keberhasilan orang lain.

Rasa percaya diri membangkitkan semangat, membuat masyarakat berani menjangkau yang lebih banyak, berani mengambil resiko dan mencapai keberhasilan melebihi apa yang diimpikannya. Ini merupakan bahan atau konsep yang jitu untuk membakar semangat masyarakat. Setiap hari tidak henti-hentinya mengatur keseimbangan, melakukan tindakan-tindakan yang sangat berarti dan memiliki makna serta selalu menunjukkan energi positif dan optimisme yang tinggi, menunjukkan jalan yang tepat kepada masyarakat luas untuk bertindak menegakkan otoritas. Menjadi penggerak terdepan menghadapi tantangan, dan tantangan itu diubahnya menjadi peluang emas yang luar biasa, dan dianggapnya menjadi sesuatu yang menyenangkan hati.

Memiliki pedoman dan keyakinan untuk berpikir besar (the big thinking) dan berupaya untuk melangkah dengan aksi nyata di lapangan. Selalu berpikir yang besar-besar untuk kesejahteraan bangsa dan negara, tetapi dengan cara melakukan langkah-langkah kecil sebagai tindakan awal.

Langkah-langkah kecil ini bisa dijadikan contoh bagi banyak orang dan mudah diikuti, sehingga rakyat dengan mudah ikut serta berpartisipasi. Menggugah kepedulian untuk melakukan tindakan atau kegiatan yang menguntungkan banyak orang, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi semata-mata untuk kesejahteraan bersama. Mungkin banyak di antara kita yang berpikir, bahwa pengembangan sumber daya manusia terjadi dalam kurun waktu yang relatif lama, seperti setahun sekali dalam penilaian karya.

Pikiran seperti itu merupakan pikiran yang jauh dari yang seharusnya. Pengembangan sumber daya manusia harus merupakan peristiwa sehari-hari, dan dipadukan dalam setiap aspek dari kegiatan tim. Kita akan menjumpai dinamika yang terjadi setiap hari, dan ini merupakan tugas pemimpin untuk memberikan bimbingan yang serius kepada masyarakat agar tindakan yang dilakukan sesuai yang diharapkan.

Masyarakat itu sudah bisa hidup sendiri, kita tidak boleh berprasangka buruk dan menganggap bahwa masyarakat, khususnya masyarakat desa itu bodoh, atau tidak mengerti apa-apa. Kita harus percaya bahwa rakyat di desa-desa itu bisa berbuat sesuatu, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk tetangganya. Yang mereka butuhkan adalah, adanya suntikan rasa percaya diri dan dorongan semangat agar bisa bangkit dan mandiri, serta perlunya pujian secukupnya, semakin spesifik pujian itu maka akan semakin baik.

Hal ini akan memiliki dampak yang besar dalam perbaikan keadaan di tengah masyarakat luas, dan yang paling baik adalah dengan menggunakan setiap kesempatan untuk mengembangkan manusia dan cara yang menyenangkan dan menyejukkan hati. Dengan munculnya ego pribadi dan memudarnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa, membuat kita sebagai anak bangsa sangat prihatin.

Nenek moyang pendiri bangsa dulu selalu menanamkan agar dalam menjalankan kehidupan ini kita saling menghormati dan bergotong-royong, namun sangat disayangkan akhir-akhir ini kita kehilangan panutan. Pemimpin yang seharusnya menjadi panutan bagaimana membangun kepedulian dan kebersamaan di tengah-tengah masyarakat yang bergejolak, justru mereka membuat kegaduhan dan memperbesar permasalahan yang akhirnya tidak berawal dan berujung.

Pemimpin yang diharapkan menjadi panutan, justru sebaliknya, banyak pemimpin dalam kenyataannya bukan menjadi panutan melainkan menjadi tontonan. Indonesia memiliki budaya, adat istiadat, suku bangsa dan agama yang sangat beraneka ragam dan berbeda-beda. Menghargai adanya perbedaan itu merupakan komitmen dari para pendiri bangsa ini yang perlu dilestarikan. Adanya budaya yang beraneka ragam dan warna kulit yang berwarna-warni, membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, penuh dengan keindahan dan membanggakan, namun perlu diingatkan, kalau tidak hati-hati akan muncul perpecahan dan berujung pada hilangnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini, diperlukan adanya contoh yang baik dari para pemimpin dan pengambil kebijakan di negeri ini. Rakyat tidak membutuhkan tontonan, tetapi rakyat membutuhan panutan yang bisa dibanggakan.

Kondisi rakyat kita masih miskin, tetapi mereka tidak butuh dikasihani, tetapi mereka perlu adanya dorongan semangat, motivasi untuk maju dan mandiri melalui proses pemberdayaan yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Memang tidak mudah untuk memberdayakan saudara kita yang miskin atau kurang berutung dalam hidupnya, karena perlu adanya ketekunan, keseriusan dan kepedulian yang tinggi dari semua pihak, terutama dari para pemimpin dan kita semua.

Dorongan semangat dan kepedulian kita sangat dinanti-nanti, agar kita menjadi bangsa yang peduli terhadap sesama anak bangsa dan Indonesia kembali menjadi bangsa yang sangat dihormati dan kembali menjadi bangsa yang berdampingan dan hidup rukun, aman dan damai. Seperti yang disarankan oleh Jack Welch, Jadilah pemimpin yang mampu mempengaruhi kehidupan banyak orang, dengan cara memberikan contoh dan suritauladan yang baik, memancarkan energi positif dan optimisme yang tinggi.***

Dr Mulyono D Prawiro  adalah dosen Pascasarjana, Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH