logo

‘Hikmah’ Serangan Virus Ransomware WannaCry Mendorong Bangsa Bermental Produsen

 ‘Hikmah’  Serangan Virus Ransomware WannaCry  Mendorong Bangsa Bermental Produsen

Oleh : Dr Prantasi Harmi Tjahjanti SSi MT

Barangkali kalau kita mau berpikir dari serangan virus Ransomware WannaCry yang sangat ramai di dunia termasuk di Indonesia, mestinya tidak hanya menangisi (seperti nama virusnya, WannaCry) file-file yang hilang, kemudian geram karena mereka meminta uang tebusan (lagi-lagi sama seperti nama virusnya, ransom) dan kemudian mencari kambing hitam siapa yang salah. Kemana dan dimana Badan Cyber Nasional (BCN) atau Badan Siber Nasional (Basinas) yang tugasnya seharusnya bisa membentengi sistem Teknologi Informasi (TI) dari serangan cyber.

Itu hal yang wajar yang selalu ditanyakan. Namun sebenarnya ada ‘hikmah’ yang terkandung di dalamnya. Paling tidak kita mulai berpikir kembali bahwa menjadi produsen jauh lebih ‘terhormat’ daripada menjadi konsumen. Artinya pula bahwa membuat/menciptakan barang/produk lebih hebat daripada hanya menjadi pembeli, sekalipun punya uang.

Di sisi lain para produsen juga memiliki nilai plus karena selain mereka mampu membuat suatu produk, mereka juga jeli menawarkan kepada pasar yang akan dibidik. Apa hubungannya dengan virus Ransomware WannaCry?

Logika sederhananya menjawab seperti ini: produk microwsoft (MS) antara lain mengeluarkan Windows 8 dan yang di bawahnya misal Windows 7 dan Windows XP. Virus ini menyerang Operating System (OS) dari Windows-Windows tersebut yang tidak di update dan lebih tajam serangannya pada OS bajakan alias palsu. Mengapa, karena dengan kondisi bajakan maupun OS yang tidak pernah di update, maka jelas produsen yang membuatnya merasa sangat dirugikan.

Bagaimana agar tidak rugi dan selalu membeli produk yang asli, maka ide cemerlangnya adalah dengan menciptakan virus ini untuk menghilangkan semua file dan meminta uang tebusan untuk mengembalikan file-file tersebut. Sehingga, wilayah serangannya adalah komputer-komputer yang banyak berada pada lembaga kesehatan, pendidikan, jasa keuangan dan badan-badan pemerintah. Kondisi di atas dari segi positifnya memperlihatkan kepada kita begitu mudahnya mereka, para produsen pencipta dan pembuat produk dapat menguasai dunia dan mendapatkan uang dengan mudah dan cepat tanpa harus bertransaksi secara langsung.

Apalagi pasar yang mereka bidik juga jelas ada. Jadi artinya mental mendidik anak bangsa sebagai produsen bukan sebagai konsumen harus ditanamkan sejak dini. Apa yang dibanggakan bila kita punya 5 handphone (hp) yang canggih,  namun beli semuanya atau memiliki sederetan mobil mewah tetapi semua hasil pembelian (semoga bukan hasil korupsi).

Kita mestinya lebih bangga sekalipun hanya memiliki satu hp atau satu mobil tetapi hasil dari produksi sendiri, hasil produk dalam negeri. Mental sebagai produsen harus dimulai sejak kecil, dimulai dari keluarga dan pendidikan di sekolah. Mengajari anak sejak dini untuk kreatif membuat suatu produk dari barang/benda bekas sangat mengasah otak untuk berinovasi.

Semakin usia bertambah maka pendidikan yang diberikan tidak hanya berkarya menciptakan produk,  tetapi juga harus diasah untuk berpikir bagaimana menjual produk tersebut.  Sehingga,  menghasilkan uang dan  timbul perniagaan/penjualan.

Artinya bahwa produk karya sendiri dan dilanjutkan dengan penjualan produk dengan baik, dalam skala besar akan berimbas pada kemakmuran bangsa.

Bersyukur,  Indonesia sampai dengan Oktober 2016 tercatat nilai eksport mencapai US$ 12,67 miliar dan nilai import ‘hanya’ US$11,47 miliar. Nampak bahwa yang dijual lebih tinggi daripada yang dibeli. Namun demikian selisih nilai eksport dan import belum signifikan artinya harus digenjot bahwa nilai eksport harus jauh lebih tinggi daripada nilai import.

Dan juga barang yang dieksport bukan lagi barang mentah tapi sudah berupa barang inovasi. Karena itu inovasi anak negeri sangat dibutuhkan, membuat, menciptakan, dan memberikan solusi yang tepat adalah jalan yang terbaik.

Jangan hanya setiap ada kendala/masalah selalu diselesaikan dengan membeli. Masih ingat di benak kita, harga cabai naik solusinya import, harga beras naik solusinya import, harga bawang putih naik solusinya import. Kapan kaya dan makmurnya negeri ini. Apalagi uang untuk import juga hasil hutang. Jadi semoga virus Ransomware WannaCry dapat mendorong bangsa Indonesia lebih bermental sebagai produsen.

 

Dr Prantasi Harmi Tjahjanti SSi MT,  Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, sekaligus Peneliti dan aktif di Pengabdian Kepada Masyarakat

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH