logo

Wisata Ambarawa, Menikmati Perjalanan Kereta Tua dan Kuliner Restoran Apung

Wisata Ambarawa, Menikmati Perjalanan Kereta Tua dan Kuliner  Restoran Apung

Foto: Istimewa
Di areal Museum KA Ambarawa seluas 12,75 hektare itu terdapat koleksi 21 lokomotif uap dan disel buatan Jerman dan Swiss awal abad ke- 20 dan gerbong penumpang buatan 1907 -1929.

SEMARANG (Suara Karya): Ambarawa di Kabupaten Semarang begitu kaya peninggalan sejarah dan budaya yang kini menjadi tempat tujuan wisata.  Di antaranya adalah Museum Kereta Api Indonesia 

Ambarawa sebagai destinasi wisata sejarah,  dan Wisata Apung Kampung Rawa di pinggir selatan telaga Rawa Pening untuk.wisata kuliner dan rekreasi. 

Ke sanalah peserta Reuni Paguyuban Alumni SMAN 3 Malang Angkatan 65 (Paguanama) dipandu Ketua Panitia Adri Mursini  berwisata pada  9 Mei 2017.  Sebanyak 35 orang anggota Paguanama termasuk Ketuanya, Josie Kantijoso begitu menikmati naik KA antik sambil melihat pemandangan yang menawan di kaki gunung Telomoyo.

Betapa uniknya KA tersebut dengan gerbong kayu untuk penumpang buatan  Negeri Belanda tahun 1907 yang ditarik lokomotif disel buatan Jerman tahun 1960. 

Perjalanan Ambarawa - Tuntang pergi dan pulang  sepanjang 13 km begitu  berkesan yang ditempuh dalam waktu satu jam. 

Di kiri kanan terlihat hamparan sawah , eceng gondok, genjer,  dan limpahan air telaga Rawa Pening. 

Hari yang sama rombongan 30-an anggota  Majelis Taklim dari Magelang juga menikmati layanan Kereta Wisata yang sama. 

Ternyata Sabtu (13/5)  rombongan alumni SMA Theresia Semarang angkatan 1974 sebanyak 80 orang juga menikmati naik KA antik Ambarawa tersebut. Namun mereka tidak ke arah Tuntang melainkan ke arah selatan jurusan Secang. 

"Tadi mereka saya dampingi ke Bedono 10 km naik kereta bergerigi. Tapi yang bergerigi hanya dari stasiun Jambu sampai Bedono," ungkap HM Sudono, pekerja profesional Heritage PT KAI Pusat  di Ambarawa kepada wartawan Sabtu (13/5) sore. 

HM  Sudono sebenarnya sudah pensiun dari PT KAI 2009. Terakhir menjabat Kepala Stasiun Besar Cepu. Karena pengalamannya mengelola utilitas transportasi tua, maka ia tahun 2010 dipanggil lagi oleh Dirut PT KAI Ignatius Jonan menjadi tenaga profesional di Museum KA Ambarawa.

Dari penjelasan Sudono, para pengunjumg museum tahu, stasiun Ambarawa dibangun pemerintah Hindia Belanda  dengan nama Willem I tahun 1873. Stasiun KA yang awalnya untuk militer Belanda tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan transportasi umum  hingga zaman Merdeka. Namun setelah tahun 1970-an kalah bersaing dengan angkutan bermotor jalan raya, akhirnya jaringan KA Ambarawa ditutup PJKA tahun 1975.

Atas gagasan Gubernur Jateng Supardjo Rustam stasiun Ambarawa dijadikan Museum KA Indonesia Ambarawa, pada tahun 1976. Sedangkan Supardjo yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman itu belakangan menjadi Menteri Dalam.Negeri.

Di areal Museum KA Ambarawa seluas 12,75 hektare  itu terdapat koleksi 21 lokomotif uap dan disel buatan Jerman dan Swiss awal abad ke- 20 dan gerbong penumpang buatan 1907 -1929.

Kode kode huruf pada lokomotif menunjukkan jumlah roda penggerak.

Misalnya kodenya D.300.23, berarti roda penggeraknya 4. Bila roda penggeraknya hanya satu (satu pasang) kodenya A , dua kodenya B dan tiga C. 

Ada pula koleksi gerbong maut , pengangkut para korban  peristiwa Bintaro I tabrakan KA tahun 1987.

Di peron stasiun Ambarawa ada genta perlintasan KA. agak ke arah utara terdapat  turn table atau meja putar untuk membalik arah lokomotif. 

Di gedung stasiun  masuh terbaca tulisan Willem I dengan tahun pendirian 1873.

Ketinggian tempat ini juga ditulis + 474, 40 M. Berarti  lebih akurat  dua digit di belakang koma. Sedangkan stasiun lain tak pernah ada angka di belakang koma, seperti stasiun Tuntang +464 M.

Pada pintu masuk museum ada  Story Wall "Sejarah Perkeretaapian Indonesia."

Seperti diungkapkan Sudono, Ambarawa memang kota sejarah ditandai adanya Monumen Palagan Ambarawa. Ini untuk memperingati perang Ambarawa antara  TNI melawan tentara Belanda NICA dan Sekutu 20 November - 15 Desember 1945.

Dalam pertempuran itu prajurit terbaik Letkol Isdiman gugur pada 26 November. Maka Komandan Resimen Banyumas Kolonel Soedirman mengambil alih pimpinan pasukan yang berhasil mengusir tentara Sekutu ke Semarang. Korban warga dan TNI maupun pihak Belanda dan Sekutu cukup banyak. 

Lokasi monumen itu sekitar 500 meter sebelah utara Museum KA Ambarawa.

              Wisata Apung

Sebelum naik KA Wisata, rombongan Paguanama menikmati makan siang di kompleks Wisata Apung Kampung Rawa di pinggir utara Rawa Pening.

Mencapai Resto Apung cap Semar harus naik tronton kecil atau perahu tambangan. Tiap kali menyeberang dari dermaga berpatung Semar ke Resto Apung hanya terbatas 8 sampai 10 orang. Dari bangunan induk yang mengapung dihubungkan jembatan ke sekitar 25 gazebo apung untuk menikmati menu yang dipesan secara lesehan 

Banyak yang mencoba foto di jembatan terpaksa harus saling berpegangan. Sebab jembatan itu pun terapung ditopang jajaran  tong pelampung warna biru.

Arik, kasir Resto Apung menuturkan bila hari libur dan Minggu sedikitnya 500 wisatawan makan di restoran tempatnya bekerja. 

Di areal Kampung Rawa seluas 2,7 ha juga disediakan perahu wisata, sepeda air berbentuk bebek, yang sandar di dermaga patung Semar. Kendaraan apung itu sebagian disewa wisatawan mengarungi Telaga Rawa Pening. Ada juga becak dan mobil mini untuk anak anak menjelajah daratan Kampung Rawa.

"Kuliner di sini yang khas adalah oseng genjer dan gurami , ikan nila goreng,"  kata Ariek. 

Waluyo Utomo pemandu wisata dari Semarang mengatakan Telaga Rawa Pening ini menurut dongeng terjadi karena anak jelmaan Baru Klinthing yang diremehkan penduduk desa marah. 

Ia menancapkan lidi di tanah dan menantang warga apa ada yang mampu mencabutnya. Setelah tak ada yang sanggup majulah anak itu mencabut lidi. Dari lubang itu keluarlah air berlimpah mengakibatkan banjir yang menenggelamkan penduduk desa yang dianggap angkuh. Jadilah Rawa Pening.

Sedang anak tadi konon jelmaan naga Baru Klinthing yang mati dipotong lidahnya. Itu dilakukan pertapa di lereng Gunung Telomoyo setelah naga sakti itu tak sampai melingkari Gunung Telomoyo akhirnya menjulurkan lidahnya agar sampai ke ekornya. Namun akhirnya lidah Baru Klinthing ditebas pedang ayahnya sendiri sang pertapa tadi. 

Untuk memasyarakatkan Wisata Ambarawa khususnya Museum Kereta Api, pekerja profesiollnal HM Sudono Rabu yang lalu memberikan paparan di depan lebih 120 siswa SMK se Karanganyar dari puluhan sekolah berikut para gurunya. Ambarawa agaknya sedang giat menyedot perhatian para pecinta pariwisata agar mengunjunginya. *** 

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor :