logo

Waspada, Jangan Lengah Jika Berada di Kawasan Komodo

Waspada, Jangan Lengah Jika Berada di Kawasan Komodo

Antara
Korban melihat seekor komodo sedang memangsa seekor kambing. Ia kemudian berusaha untuk mengabadikan momen tersebut, namun korban tidak tahu ada seekor binatang komodo kecil yang berada di sekitar korban yang kemudian langsung menggigit betis kaki bagian kiri hingga mengalami luka robek.

JAKARTA (Suara Karya):  Seekor komodo di pintu masuk Loh Buaya, Pulau Rinca, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tiba-tiba menegakkan leher dan kepalanya.

Ia kemudian berjalan dengan pelan-pelan, sekali-kali menjulurkan lidahnya, menuju sebuah parit untuk minum.

Usai minum, komodo itu kemudian menegakkan lehernya. Kesempatan itu dimanfaatkan para turis asing untuk mengabadikannya. Mereka berfoto dekat dengan komodo yang sedang menegakkan leher dan kepalanya.

"Komodo memang berjalan sangat lambat, dan makannya bisa sekali dalam satu atau dua bulan. Hewan purba ini lebih banyak tidur," kata Anton, seorang pemandu wisata.

Istilah keren untuk para pemandu wisata komodo di Pulau Rinca, adalah "Ranger".

Rinca adalah salah satu pulau di Flores bagian barat, Nusa Tenggara Timur, di mana bisa ditemui satwa jenis reptil yang hidup di zaman Dinosaurus itu. 

Di Taman Nasional Komodo (TNK) empat pulau yang dihuni komodo, yaitu Pulau Nusa Kode, Gili Motang, Rinca, dan Pulau Komodo. 

Komodo adalah hewan yang sudah ada sejak 40 juta tahun lalu, bertahan pada 33 perubahan iklim, dan merupakan reptil tertua di Indonesia.

Satwa itu memang menjadi magnet atau daya tarik bagi turis. Kini jumlahnya hanya ada 4.000 ekor dan tersebar di beberapa pulau itu.

Komodo memang berjalan lambat, namun para turis jangan anggap remeh. Kalau tidak waspada bisa fatal akibatnya.

Rabu, 3 Mei 2017 lalu, Antara melaporkan,  wisatawan sekaligus seorang fotografer warga negara Singapura bernama Loh Lee Aik (68) digigit oleh hewan purba Komodo (varanus komodoensis) di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

"Korban digigit di betisnya pada Rabu (3/5) sore, saat sedang memotret seekor Komodo sedang memangsa kambing yang sudah menjadi bangkai," kata Kabid Humas Polda NTT Jules Abraham Abast di Kupang, Kamis (4/5).

Lokasi korban digigit lanjut Jules jaraknya sekitar 200 meter dari desa Komodo, Kecamatan Komodo.

Dari kronologi pristiwanya Jules menjelaskan pada hari Senin (1/5) korban berangkat dari Labuan Bajo menuju kampung Komodo dan menginap di rumah warga masyarakat bernama  H. Kasing, dengan tujuan untuk mengumpulkan foto aksi Komodo di desa tersebut.

Kemudian keesokan harinya pada Selasa (2/5), saat korban berjalan-jalan mengelilingi Kampung Komodo tersebut, ia melihat ada seekor kambing yang digigit oleh seekor Komodo di kompleks Pekuburan Umum dekat Pustu Desa Komodo namun tidak sempat ia dokumentasikan.

"Nah kemudian korban mendapatkan informasi dari warga setempat apabila sudah ada kambing yang digigit Komodo dan kemudian mati pasti Komodo akan turun dari Gunung untuk memangsa kambing yang sudah mati tersebut," ujar Jules menurut laporan dari kepolisian Manggarai Barat.

Setelah mendengar ada kesempatan tersebut, pada Rabu (3/5) pukul 08.00 Wita waktu setempat, korban melakukan "tracking" ke tempat bangkai kambing pegunungan sekitar 200 meter dari arah Pustu Desa Komodo tanpa didampingi ranger/warga masyarakat guna melakukan pengambilan gambar.

Saat tiba di lokasi tersebut, korban melihat seekor komodo sedang memangsa seekor kambing.

Ia kemudian berusaha untuk mengabadikan momen tersebut namun korban tidak tahu ada seekor binatang Komodo kecil yang berada di sekitar korban yang kemudian langsung menggigit betis kaki bagian kiri hingga mengalami luka robek.

Pascakejadian tersebut masyarakat yang mengetahui hal tersebut langsung bergerak cepat membawa korban menyeberang ke Labuan Bajo untuk dirawat di Rumah Sakit di Labuan bajo.

"Hingga saat ini korban masih dirawat di RS Siloam setelah ditangani oleh petugas kepolisian," katanya.

Kepala Taman Nasional Komodo (KTNK) Sudiyono mengatakan, dari data yang ada, sudah dua wisatawan asing yang diserang komodo dan satu di antaranya meninggal dunia dan jasadnya tidak ditemukan.

"Kalau korban wisatawan asing yang diserang komodo, sudah merupakan yang kedua. Pertama sekitar tahun 1974 tetapi korbannya tidak ditemukan. Kemungkinan dimakan komodo," kata Sudiyono kepada Antara melalui telepon dari Kupang, Jumat (5/5).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan jumlah wisatawan asing yang diserang komodo, selain wisatawan asing asal Singapura Loh Lee Aik (68).

Menurut dia, pada sekitar tahun 1974, binatang raksasa itu menyerang wisatawan berjumlah sekitar 30 orang. Dari jumlah itu, salah satunya dilaporkan hilang ditelan komodo.

Data ini tidak termasuk pekerja bangunan atau para pekerja yang melakukan kegiatan pembangunan di kawasan itu.

"Kalau pekerja bangunan, pekerja lain-lain memang sudah banyak yang digigit komodo dan ada yang meninggal," katanya menambahkan.

Fakta ini menunjukkan bahwa, komodo adalah jenis hewan kanibal yang bisa memakan daging hewan dan juga manusia, sehingga harus diwaspadai.

Karena itu, siapapun yang memasuki kawasan itu untuk melihat komodo, di Taman Nasional Komodo (TNK) harus berhati-hati.

Artinya, cukup melihat dari jarak jauh. Tidak perlu terlalu dekat karena bisa diserang bahkan dimangsa hewan itu, katanya menjelaskan.

Di TNK terdapat empat pulau yang dihuni komodo, yaitu Pulau Nusa Kode, Gili Motang, Rinca, dan Komodo. 

Dalam catatan TNK, sejak 1987 sampai kini, 16 orang digigit komodo empat di antaranya tewas. 

Terakhir, seorang petugas keamanan TNK digigit pada November 2011, dan meninggal pada Mei 2012. 

             Kunjungan Turis Pesat

Komodo memang berjalan lambat, namun pariwisata komodo belakangan ini bergerak sangat pesat. 

Kunjungan turis ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sebagai pintu masuk destinasi wisata komodo dan Pulau Padar, mengalami pertumbuhan cepat. 

Sejak Taman Nasional Komodo (TNK) terpilih sebagai salah satu dari New Seven Wonders of Nature tahun 2011, kunjungan turis asing dan domestik meningkat pesat. 

"Terutama kunjungan turis asing," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat Theodorus Suardi.

Data statistik terkait dengan pertumbuhan hal itu, pada 2012 kedatangan turis asing hanya 26.631 orang, pada 2013 naik 33 persen menjadi 35.473 orang, pada 2014 naik 23 persen menjadi 43.681 orang, pada 2015 naik empat persen menjadi 45.372 orang, dan pada 2016 naik 20 persen menjadi 54.335 orang. 

"Para turis asing datang ke Labuan Bajo rata-rata minimal tinggal selama 5,4 hari," kata Theodorus Suardi

Labuan Bajo yang menjadi pintu masuk wisata komodo, kini sudah seperti "labuan bule" karena banyaknya turis asing berseliweran di kota pelabuhan tersebut. 

"Memang jauh lebih banyak kunjungan turis asing ke wisata komodo, kemudian mereka melakukan menyelam (diving) melihat ikan Manta dan penyu raksasa, dibandingkan turis domestik," tambah Kadinas Theodorus.

Ia memaparkan data pada 2012 turis domestik (nusantara) yang datang hanya 4.284 orang atau 16 persen dibandingkan dengan turis asing 26.631 orang. Pada 2013, kunjungan turis domestik 7.825 orang atau 22 persen dibandingkan dengan turis asing 35.475 orang. 

Pada 2014, kunjungan turis domestik sebesar 11.469 orang atau 26 persen dibandingkan dengan kunjungan turis asing 43.681 orang. Pada 2015, kunjungan turis nusantara mencapai 15.574 orang atau 34 persen dibandingkan dengan kedatangan turis mancanegara 45.372 orang.

Pada 2016, kunjungan turis nusantara mencapai 29.377 orang atau 54 persen dibandingkan dengan kunjungan turis mancanegara yang mencapai 54.335 orang. 

Berdasarkan data statistik pada 2016, negara asal turis asing yang datang ke Labuan Bajo dan wisata komodo, peringkat pertama adalah Amerika sebanyak 7.421 orang, disusul Australia 6.933 orang, Inggris 4.922 orang, Prancis 4.641 orang, Spanyol 4.631 orang, Jerman 4.376 orang, Belanda 3.836 orang, Kanada 1.641 orang, kemudian Italia 1.379, dan Swiss 655 orang.

                    Manta Menari

Akan tetapi, tingginya kedatangan turis ke Labuan Bajo bukan hanya karena daya tarik komodo. 

Kepariwisataan setempat juga mengandalkan keindahan Pulau Padar dan keindahan alam bawah laut, keanekaragaman ikan, seperti ikan Manta raksasa dan penyu besar, wisata kuliner Kampung Ujung yang terkenal dengan ikan bakar segar, dan keindangan matahari terbenam di Labuan Bajo.

"Itu menjadi tambahan daya tarik wisata komodo," kata Valentino, salah seorang pengorganisasi tur di Labuan Bajo.

Jika menelurusi Jalan Soekarno-Hatta yang mengitari kota pelabuhan Labuan Bajo, berdiri deretan "dive center" atau operator penyelaman asing yang menguasai dan mendominasi wisata bahari dan komodo.

"Banyak turis asing yang datang ke sini, untuk melihat keindahan bawah laut yang masih alami, melihat ikan Manta berdansa, dan penyu besar. Tapi arus bawah laut di sini kadang-kadang kuat, beda dengan arus bawah laut tempat menyelam lainnya," kata Kathrin, pengelola Lagona Divers yang sudah beroperasi sejak 2009.

"Pertumbuhan dive center asing memang sangat pesat di Labuan Bajo. Dulu saat pertama kali datang dan membuka dive center tahun 2009, hanya ada lima dive center, semuanya dikelola oleh warga negara asing. Kini, ada sekitar 45-50 dive center dan memang mayoritas dikelola oleh warga negara asing," tambah Kathrin yang warga Jerman itu.

Namun, Kathrin, Kadinas Theodorus, dan Valentino mengakui karena peran operator selam asing maka kunjungan turis asing ke Labuan Bajo untuk wisata komodo meningkat pesat.

"Mungkin karena dive center asing mampu menjual, mampu promosi, mereka memiliki pasar di Eropa dan Amerika serta Australia, serta dipercaya oleh turis asing sehingga mereka membanjiri Labuan Bajo," kata Theodorus, Kadinas Pariwisata Manggarai Barat.

Namun, kehadiran "dive center" juga mengancam tur operator lokal. 

"Jika dive center asing hanya melayani trip penyelaman itu sudah benar, tapi hampir semua dive center asing juga melayani trip wisata ke Pulau Padar dan Komodo, yang merupakan lahan bisnis tur operator lokal," ungkap Valentino.

Dengan investasi besar, katanya, "dive center" asing menawari turis dengan paket "live on board" atau hidup di atas kapal selama beberapa hari dengan kegiatan penyelaman di sekitar Kepulauan Komodo dan Pulau Rinca.

"Kemudian melihat keindahan Pulau Padar dan melihat reptil komodo," ungkap Valentino.

Kehadiran "dive center" asing memang mendatangkan banyak turis asing, mendatangkan rejeki bagi bisnis pendukung pariwisata komodo, seperti operator tur, wisata kuliner, hotel dan penginapan, serta pemandu penyelaman.

Akan tetapi, jangan mereka mengambil bisnis yang dilakoni oleh operator lokal. 

"Jika tidak diatur maka pertumbuhan pariwisata komodo kurang banyak memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal," kata Valentino. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Lulus Uji Kompetensi Wartawan sesuai dengan Peraturan Dewan Pers. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor :