09 January 2017 12:59 WIB
Editor : Bayu Legianto

Kerja Serabutan Hari Tua Tetap Terjamin

Kerja Serabutan Hari Tua Tetap Terjamin

 

JAKARTA (SK)- Bagi para pekerja lepas atau sekarang dikenal dengan sebutan Bukan Penerima Upah (BPU), memiliki atau menerima uang pensiun di hari tua merupakan hal yang mutahil. "Gelap," ujar Wawan (37), seorang pengemudi ojek di kawasan Citayam, Bogor.

Betapa tidak, ungkap bapak dua anak tersebut, uang yang diperolehnya dari hasil mengojek hanya cukup untuk makan sehari-hari. "Kalau toh, ada sedikit tabungan, sewa rumah udah nungguin. Belum kebutuhan sekolah, atau jaga-jaga kalau ada anak yang sakit," tutur dia.

Untuk itulah, selain dirinya mengojek, diceritakannya sang istri di rumah turut membantu keuangan keluarga, dengan menjadi kuli cuci pakaian di sekitar rumahnya.

Benarkah, para pekerja lepas yang bekerja serabutan dan BPU, tidak memiliki harapan di masa depan. Benarkah, orang macam Wawan merasa gelap masa depannya?

Memang di Indonesia, untuk seseorang memperoleh proteksi diri dan jaminan hidup di hari tua dirasa masih sangat sulit. Kalau pun ada sejumlah perusahaan asuransi menawarkan hal itu, uang iurannya untuk menjadi anggota masih sulit dijangkau. Apalagi bagi para pekerja lepas macam Wawan dan teman-temannya.

Sesungguhnya tidak demikian, apabila mereka mengenal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK). Pada saat ini, masyarakat Indonesia lebih mengenal BPJS di bidang kesehatan. 

 Padahal, di tengah sulitnya mencari jaminan sosial untuk memproteksi diri dan jaminan hari tua bagi para pekerja BPU, BPJSTK hadir dengan program-programnya yang  mampu melindungi dan memberi manfaat bagi pesertanya. Ada empat program yang diluncurkan, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), serta Dana Pensiun.
 Dari keempat program tersebut, ada satu program yang bisa dimanfaatkan para pekerja lepas BPU, untuk menjamin masa tua mereka, yakni program Jaminan Hari Tua (JHT). Untuk mengenal BPJSTK, perlu diketahui badan ini dahulu bernama  PT Jaminan Sosial Tenagakerja (PT Jamsostek).

Badan tersebut memberikan program asuransi sosial, yang memberi perlindungan bagi pekerja di perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Sekarang, sejak tahun 2014, berdasarkan UU nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS, PT Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014.

Sejak itulah, para pekerja di luar perusahaan atau pekerja mandiri atau pekerja BPU bisa mendaftarkan diri pada asuransi BPJSTK. Dan, yang terpenting, orang-orang seperti Wawan si pengojek punya kesempatan untuk memiliki JHT.

  Seorang pekerja yang mempunyai pekerjaan di luar hubungan kerja seperti pedagang, petani, nelayan, blogger, artis, atlet, tukang ojek, parafreelancer dan pekerja-pekerja mandiri lainnya, sekarang sudah dapat mendaftarkan diri dalam program BPJSTK, khususnya yang berkaitan dengan JHT. Bahkan, mulai Mei 2015 lalu telah diperkenalkan program BPU.
 Alhasil, masyarakat yang tergolong bukan penerima upah atau yang tidak mendapat gaji secara tetap (pekerja mandiri), tetap bisa mendapatkan jaminan di hari tuanya. Fasilitas yang diperoleh sama dengan para pekerja di sektor formal.
 Latar belakang dibukanya program untuk pekerja BPU ini sendiri, juga lantaran animo masyarakat yang terkategori pekerja mandiri  untuk bisa memiliki jaminan di hari tua. Para pekerja mandiri ini memang sudah layak masuk peserta BPJS TK, karena sudah bisa dianggap sebagai pencari nafkah. 
 Program Jaminan Hari Tua sendiri atau dikenal dengan sebutan program JHT merupakan program yang membuat para pekerja akan mendapatkan jaminan di hari tua mereka.

Para peserta memperoleh jaminan dari saldo tabungan yang dimilikinya di BPJSTK. 
   

Uniknya menabung dalam program JHT di BPJSTK  ini memiliki bunga yang lebih besar dibanding menabung di bank. Untuk program ini setoran iurannya Rp 40.000 setiap bulannya. Kepesertaan program JHT BPJSTK bersifat wajib. Terkait dengan kepesertaan program tersebut dibedakan menjadi dua yaitu penerima upah dan bukan penerima upah.